ENEWS, POLMAN •• Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat, kembali mengalokasikan anggaran sebesar Rp 3,8 miliar tahun ini untuk pembangunan hanggar di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Desa Paku, Kecamatan Binuang.
Ironisnya, proyek serupa yang dikerjakan tahun lalu justru terbengkalai dan hanya menyisakan tumpukan material besi berkarat di belakang kantor DLHK Polman.
Pada tahun sebelumnya, DLHK Polman menganggarkan Rp 1,2 miliar untuk pembangunan hanggar di TPA Paku melalui sistem swakelola tipe dua.
Dari total anggaran tersebut, Rp 600 juta telah dicairkan dan dialokasikan untuk pematangan lahan serta pembelian material bangunan.
Namun, proyek tersebut tak kunjung selesai. Kini, rangka baja senilai ratusan juta rupiah yang dibeli untuk proyek itu hanya menjadi besi rongsokan, seolah dibiarkan berkarat di bawah terik matahari dan guyuran hujan.
Material tersebut disimpan begitu saja di pematang sawah milik warga di balik pagar belakang kantor DLHK Polman, menunjukkan kurangnya perencanaan dan pengawasan yang memadai.
Kondisi ini menimbulkan pertanyaan serius mengenai pengelolaan keuangan dan akuntabilitas proyek di DLHK Polman.
Meskipun proyek sebelumnya gagal diselesaikan, dinas ini tetap mengalokasikan anggaran baru miliaran rupiah untuk pembangunan hanggar serupa di lokasi yang sama.
Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) proyek hanggar TPA Paku, Ilyas Gani, mengklaim bahwa material dari proyek tahun 2024 tidak dapat digunakan dalam proyek baru tahun ini.
“Material hanggar tahun 2024 itu tidak ada kaitannya dengan proyek hanggar tahun ini. Kalaupun ingin digunakan, harus melalui proses lelang terlebih dahulu. Pemenang tender tahun ini adalah CV Sawerigading,” ujarnya kepada media, Selasa (4/11/2025).
Selain pembangunan hanggar, DLHK Polman juga telah menginvestasikan anggaran besar lainnya di TPA Paku, termasuk pembelian dua unit mesin pengolah sampah senilai Rp 9,5 miliar, sementara proyek pembangunan hanggar ditargetkan selesai pada Desember tahun ini.
“Proyeknya sudah berjalan, tapi pemenang tender belum mengajukan uang muka, mungkin karena memiliki modal yang cukup,” kata Ilyas.
Kendati demikian, publik mempertanyakan manfaat nyata dari proyek-proyek berbiaya besar tersebut, mengingat kegagalan proyek tahun lalu dan kondisi material yang kini terbengkalai. (*/Red)






