banner 728x250 . banner 728x250

Adalah BONE Yang Ditandai Dengan Tiga Hal: Lempu’, Getteng, Ada Tongeng

ENEWSINDONESIA.COM

Penulis: Andi Ardiman
•Wakil Ketua lll IKA MAN 1 Bone, Bidang Pendidikan dan Latihan, Bidang Seni dan Budaya,
•Ketua Bidang Seni & Budaya DPD PKS Bone

banner 728x250

Bone, Selasa (6/4/2021)

-Matoa Pitu: Iyyana kilaowang mai ri-iko lamarupe’, amaseang na’keng. Aja’na muallajang, mutudang ri tanamu na iko-na powatakkeng. Elo’mu elo’ rikkeng, na passuromuna kiyolai, kipogau’. Angingko kiraukkaju, riakkommiri riakkeng mutappalireng. Ellauko kiabbere, olli’ko kisawe’, attampako kilao. Namauna ana’meng, bainemmeng, na pattarommeng, rekkua muteaiwi kiteatowi sia. Rekko monromuno mai rini, na iko kipopuang.
(Adapun maksud kedatangan kami kepadamu, meminta belas kasihmu. Janganlah pergi, tetaplah ditanahmu ini dan kamilah abdimu. Kehendakmulah yang jadi, perintahmu-lah kami jalankan, kami lakukan. Engkau angin kami dedaunan, kemana engkau berhembus kesana kami terbawa. Mintalah maka kami beri, panggillah maka kami menyahut, undanglah maka kami datang. Sekalipun anak kami, istri kami, dan segala yang kami miliki, jika engkau tidak senangi maka kami pun turut tidak senang atasnya. Namun tetaplah ditempat ini menjadi pemimpin kami).

-To Manurung: Teddua nawa-nawao? Temmabbellecco’ko?
(Tidakkah hati kalian mendua? Tidakkah kalian mengingkarinya?)

-Matoa Pitu: Teddua nawa-nawakkeng, temmabbellecokkeng.
(Kami tidak mendua hati, kami pun takkan ingkari).

-To Manurung: Upate’ ri botto ulu ada madecengmu to maega, upate’ kipakka-pakka ulaweng, ri wettu mabbulo sipeppa’mu maelo mupancajika Arung.
(Aku junjung tinggi diatas kepala segala perkataan baikmu wahai orang banyak, aku tempatkan pada mahligai keemasan, disaat kalian bersatu padu mengangkatku sebagai Pemimpin).

•••
Diceritakan dalam Lontara’, tentang terjadinya depresi sosial ditengah masyarakat terdahulu, dengan kondisi masyarakatnya tak saling percaya, hingga pada saling menaklukkan antara satu sama lain yang digambarkan sebagai Sianre Bale, diibaratkan seperti Ikan besar memangsa ikan yang kecil. Situasi yang diceritakan berjalan cukup lama demikian kemudian menjadi latar belakang kemunculan sosok Manurung’E ri Matajang Petta MatasilompoE, yang didaulat oleh pitu wanua (tujuh klan/negeri) menjadi pemimpin dan pemersatu diantara mereka. Dari peristiwa tersebut terbentuklah Kawerrang (Pemerintahan berserikat/Federasi dengan gabungan 7 negeri dibawah satu naungan kepemimpinan tertinggi) yang mengawali terlahirnya Wanua Tana Bone, hingga pada perjalanan panjangnya melewati 32 masa kepemimpinan berbentuk kerajaan, sampai akhirnya tergabung menjadi bagian dari wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, hingga saat ini.

Terhitung telah 691 tahun keberadaan Bone sejak bermula dari tahun 1330M, hingga ditahun 2021 ini kembali mengantarkannya tiba pada momentum peringatan Hari Jadi Bone sebagai agenda tahunan pada setiap 6 April oleh Pemerintah Daerah Bone bersama masyarakatnya. Namun selayaknya sebuah peringatan, Hari Jadi Bone tentunya digelar dengan tak sekedar menaruh kebahagiaan pada suasana perayaannya, namun sejatinya menjadi momentum mengingatkan kembali esensi ke-Bone-an yang dititipkan para pendahulu guna memperbaharui maupun merekonstruksi upaya dan semangat secara bersama demi merawat dan mengantarkan Bone untuk dapat tiba pada puncak peradaban dengan mutu kehidupan masyarakatnya yang lebih baik.

Dalam sebuah pappaseng (petuah) menyebutkan, “Iyyanaritu Bone, monroi ri TelluE Tanra: Lempu’E, Getteng’E, na Ada Tongeng’E”.
(Adalah Bone, yang ditandai dengan 3 (tiga) hal: Lempu’E, Getteng’E, dan Ada Tongeng).

Lempu’, Getteng, dan Ada Tongeng, sejatinya merupakan filosofi hidup warisan pendahulu yang esensinya dapat menentukan kualitas hidup dan kemanusiaan setiap individu ditengah tatanan bermasyarakat hingga menjadi indikator ke-Bone-an sebagai nawacita pendahulu guna terbentuknya mutu peradaban yang paripurna.

Lempu’, pada umumnya hanya diartikan sebagai jujur, namun lebih jauh sebenarnya memuat makna yang lebih. Dalam berbagai konteks, makna lempu’ dapat berubah menjadi adil, benar, lurus maupun baik. Secara eksplisit, indikator Lempu’ diterangkan dalam pappasaeng,

Eppa’i Gau’na Lempu’E
(Empat hal perbuatan Lempu’) :
•Seuwwana, ri asalanna naddampeng,

(Pertama, saat bersalah akan meminta maaf)
•Maduanna, ri parennuangi temmaceko, bettuanna risanresi teppabbelleang,
(Kedua, saat diamanahkan takkan culas/curang, maksudnya dipercaya takkan berdusta/khianat),
•Matellunna, temmangoaengngi tenniaE olona,
(Ketiga, tak serakah terlebih yang bukan haknya),
•Maeppa’na, tennasengngi deceng rekkua tennassamariwi pudecengngi.
(Keempat, tak menjadikan kebaikan jika tak turut dirasakan secara bersama).

Sementara Getteng, banyak dipahami sebagai ketegasan. Namun sebagaimana Lempu’, Getteng pun dapat bermakna lebih luas pada berbagai konteks. Getteng dapat saja bermakna integritas, independensi, maupun loyalitas. Dalam pappaseng pun diterangkan indikator Getteng,

Eppa’i Gau’na Getteng’E
(Empat hal perbuatan Getteng):
•Seuwwana, TessalaiE Janci,
(Pertama, Takkan meninggalkan Janjinya),
•Maduanna, TessorosiE Ulu Ada,
(Kedua, Takkan urung dari Perjanjian),
•Matellunna, Telluka anu pura, Teppinra Assituruseng,
(Ketiga, Takkan melukai Ketetapan, Takkan mengubah Kesepakatan),
•Maeppa’na, Mabbicarai na parapi’, mabbinru’i tepupi napaja.
(Keempat, Menyanggupi saat merasa mampu, Menunaikan pekerjaan hingga tuntas).

Adapun Ada Tongeng, secara umum dipahami sebagai Perkataan Benar. Namun pada dasarnya filosofi Ada Tongeng dimaksudkan tidak hanya sebatas ungkapan Kebenaran pada tataran horizontal terhadap sesama manusia sebagai kepatutan maupun ketaatan yang disandarkan pada Hukum dunia, namun lebih dalam merupakan korelasi hubungan vertikal terhadap Sang Pencipta dengan mesti bermula dari nurani yang bersih, sehingga pada implementasinya dikenal sebagai Saddanna Pawinru’E (Suara oleh Sang Pencipta).

Akhirnya, selamat Hari Jadi Bone ke-691 tahun. Dengannya, mari bersama-sama menjadikan momentum ini menjadi ruang bersama merefleksi dan mengevaluasi diri atas peran kita selaku individu maupun sebagai masyarakat Kabupaten Bone, dengan menyatukan visi dalam merawat dan membangun daerah yang kita cintai.

Appatudakki’ Awatangeng riase’na Getteng’E,
(Dudukkan Kekuatan diatas Ketegasan),
mupatokkong Getteng riase’na Tongeng’E,
(Dirikan Ketegasan diatas Kebenaran),
na mupatonangngi Tongeng’E riase’na Lempu’E.
(Dan tempatkan Kebenaran diatas Kejujuran).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *