Opini  

Sekolah, Kedunguan, dan Penjajahan Modern

Foto: Ikbal Tehuayo (Jurnalis Enewsindonesia.com).

Oleh: Ikbal Tehuayo

Gempuran media sosial (medsos) tak ada redanya, saban hari tiada spasi, menusuk dan menghujami tiada ampun dari segala arah, tanpa mengenal tua atau muda.

banner 728x250

Sampah-sampah opini produk medsos berhamburan tanpa batas, narasi tandus makna gersang ilmu bergentayangan seiring menguapnya waktu.

Dilengkapi kurangnya pustaka pada otak, kecepatan isu menembus segala ruang tanpa tersaring, mendaginglah sudah penyakit gagal nalar menyerang jantung bangsa ini.

Segala bentuk jajahan berjubah baru tak mampu terdeteksi, sebab satu-satunya peralatan ampuh untuk membongkar persembunyian kejahatan dalam segala aspek di zaman ini hanyalah pikiran dan analisis tajam.

Jajahan didandani dengan sekian kosmetik kepalsuan, dijubahi dengan aneka busana pembodohan, lalu dibungkus dengan rasionalisasi sebagi alat untuk menghipnotis para target.

Dalam keseharian tumpah ruah di depan hidung kita penjajahan berwajah baru. Misalnya, definisi cantik telah dibentuk oleh pemodal demi melariskan barang dagangannya, yakni cantik adalah tinggi, putih dan langsing, ini agar produk peninggi, pelangsing dan pemutih diminati para wanita, dan menyihir pikiran wanita kalau tidak memakai produknya maka dia belum dianggap wanita modern.

Untuk menjaga lancar dan awetnya jajahan modern seperti ini, maka kebodohan harus dipelihara dan didistribusikan ke dalam seluruh lapisan masyarakat, salah satu tempat pendistribusian kebodohan ke seluruh penjuru nusantara adalah lembaga pendidikan.

Contohnya sekolah, nyata terlihat tidak mencerdaskan. Bila anda belajar bahasa inggris dari SD hingga SMA tak membuat anda menjadi pandai, kalau anda ke tempat kursus hanya butuh 6 bulan untuk bisa menguasai bahasa Inggris.

Tak sedikit praktek pembodohan terjadi di sekolah. Murid disuruh belajar, saat ujian, murid diberi jawaban, jelas sangat konyol, sekolah sedang cuti nalar.

Sudah puluhan tahun praktek ini dipelihara dan diberi pupuk kesuburan oleh guru-guru kita sendiri di sekolah, lalu dengan bangga, mereka berkata, guru adalah pahlawan tanda jasa, di sisi lain mereka tak sadar kalau merekalah penjajah anak bangsa sendiri yang didesain oleh sistem tak beradab alias gersang pekerti.

Penulis teringat ucapan Margaret Mead yang mengatakan bahwa, nenek ingin aku memperoleh pendidikan, karenanya ia melarangku sekolah, kalimat ini harusnya menjadi tamparan keras untuk mengevaluasi sistem yang ada di sekolah.

Kita renungi sejenak, ketika Gus Dur belajar di Al-azhar, mata kulia di sana sudah dipelajari di pondok pesantren klasik Indonesia. Pertanyaannya, kalau pesantren kita saja bisa lebih baik dari Al-azhar, kenapa negara tidak pakai kurikulum ini?

Mustahil bila negara tidak mengetahui hebatnya kurikulum pesantren. Kalau niatnya mencerdaskan kehidupan bangsa, kenapa negara hingga kini terdiam saja, patut diduga sistem sekolah dan perguruan tinggi kita tidak benar-benar ingin mewujudkan harapan leluhur kita, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa.

Frank Zappa dengan santai bilang begini, Jika anda ingin bercinta pergilah ke perguruan tinggi. Jika anda ingin berpendidikan pergilah ke perpustakaan.

Memang benar adanya, perguruan tinggi mengkerdilkan wawasan, menyihir pikiran agar perguruan tinggi terlihat paling baik dalam hal mendidik anak bangsa.

Sederhana begini, sekolah dan perguruan tinggi itu tidak penting, yang penting adalah berilmu. Kalau ilmu bisa diperoleh dimanapun, lalu kenapa harus sekolah.

Kita dipenjara dengan syarat administrasi, kalau mau kerja, anda akan ditanya, mana ijazahmu? Itulah yang membuat orang-orang harus sekolah.

Ketika sekolah telah membujuk manusia masuk ke dalamnya, maka aksi pembodohan mulai diciptakan dengan sistem yang elok.

Kedunguan adalah jalan masuk paling mulus untuk melakukan aksi penjajahan modern, maka sekolah haram hukumnya mencerdaskan kehidupan bangsa.

Di berbagai sektor, rasionalisasi telah menjadi penjajahan baru di abad ini, segela bentuk kejahatan ekonomi, pendidikan, politik hingga kesehatan bisa dirasionalkan agar terlihat baik.

Lalu, bagaimana mungkin kejahatan jenis ini bisa disikut pergi bila untuk mendeteksinya saja kita tak berdaya, akibat tumpulnya pikiran.

Sejalan dengan apa yang dipikirkan Herbert Markus, bahwa rasionalisasi masyarakat modern adalah biang keladi penindasan manusia atas manusia.

Kedunguan berpikir membuat kita menikmati keterjajahan, amanat mencerdaskan bangsa dikencingi oleh anak bangsa sendiri.

Tanpa memaksimal pikiran yang dianugerahkan Tuhan pada kita, maka derajat kemanusiaan kita diinjak-injak tanpa disadari, sebab bentuk jajahan tak seperti dahulu kala, ia datang tanpa bisa diantisipasi dan sulit mengenalnya.

Keberanian berpikir mandiri dan perlawanan atas sistem pembodohan masal yang ada di lembaga-lembaga pendidikan sudah harus dikampanyekan pada generasi kita, agar bangsa ini selamat dari upaya pembodohan yang telah berlangsung selama ini.

Kedunguan itu aib agama dan negara, itulah secara tersirat lewat pembukaan undang-undang dasar 1945 kita diwajibkan cerdas, agar bau busuk kebodohan bangsa ini tidak tercium ke seluruh penjuru dunia.

Gerak langkah sejarah bangsa ini diwarnai dengan pembuangan sejumlah pemikir, misalnya Soekarno dibuang ke Ende dan Hatta ke pulau Banda.

Di sini kita patut bercermin untuk menyadari, bahwa dunia sangat takut bangsa ini mempunyai pemikir-pemikir besar, oleh karena itu, setiap lembaga terkait dengan upaya mencerdaskan kehidupan bangsa harus sungguh-sungguh dalam mengelola pendidikan, agar kelak bangsa ini menjadi kiblat peradaban dunia.





Tinggalkan Balasan