Oleh: Thahirtalas (Dosen-Aktivis Kebudayaan dan Perilaku Sosial
Universitas Muhammadiyah Makassar)
Dialektika Spiritualitas, Budaya Populer, dan Tantangan Peradaban Islam Berkemajuan
Makassar, 7 Ramadhan 1447 H / 24 Februari 2026 M
Ramadhan selalu hadir sebagai bulan suci yang sarat makna spiritual. Ia adalah ruang tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) ang menuntun umat Islam pada pengendalian diri, peningkatan ibadah, serta penguatan empati sosial. Dalam kerangka ideal, Ramadhan membentuk etika pribadi dan solidaritas kolektif yang berkeadaban.
Namun, realitas sosial kontemporer menunjukkan wajah lain Ramadhan. Fenomena takjil war, festival kuliner berbuka, hingga maraknya konten digital bertema Ramadhan menjadi bagian tak terpisahkan dari lanskap keagamaan hari ini.
Ramadhan tidak lagi sekadar pengalaman spiritual personal, melainkan juga peristiwa sosial yang diproduksi, direpresentasikan, dan bahkan dikomodifikasi di ruang publik.
Pendekatan etnografi membantu kita membaca fenomena ini tanpa tergesa menghakimi. Agama, meminjam Clifford Geertz, adalah sistem simbol yang membentuk suasana hati dan motivasi kolektif.
Ramadhan adalah simbol besar yang membentuk sekaligus dibentuk oleh realitas sosial. Ketika takjil menjadi tren gaya hidup dan konten ibadah menjadi kompetisi digital, terjadi transformasi simbolik. Kesalehan tetap hadir, tetapi berpotensi mengalami reduksi makna ketika estetika lebih dominan daripada etika.
Talal Asad mengingatkan bahwa praktik keagamaan selalu berada dalam relasi kuasa dan konstruksi historis. Di era kapitalisme digital, ruang sakral Ramadhan berdialog intens dengan logika pasar dan algoritma media sosial.
Diskon besar-besaran, promosi produk, hingga konten viral menunjukkan bahwa makna Ramadhan kini juga dipengaruhi kepentingan ekonomi dan industri media. Otoritas tafsir tidak lagi eksklusif milik institusi keagamaan, tetapi turut diproduksi oleh ruang digital.
Dari perspektif Pierre Bourdieu, praktik keagamaan merupakan bagian dari habitus, pola disposisi sosial yang terinternalisasi. Budaya konsumtif yang menyertai Ramadhan dapat dipahami sebagai reproduksi struktur sosial modern, di mana simbol kesalehan juga berfungsi sebagai modal simbolik.
Unggahan berbagi takjil atau dokumentasi ibadah bisa menjadi ekspresi iman, namun juga berpotensi bergeser menjadi performativitas sosial jika orientasinya lebih pada citra daripada transformasi diri.
Victor Turner memandang ritual sebagai fase liminal yang melahirkan communitas, solidaritas yang melampaui sekat sosial. Secara ideal, Ramadhan adalah ruang kebersamaan yang memperkuat kohesi umat.
Meski era digital menghadirkan fragmentasi dan polarisasi, teknologi juga membuka peluang solidaritas baru: kajian daring, penggalangan dana digital, dan kampanye sosial berbasis komunitas. Transformasi bentuk tidak selalu berarti kehilangan makna.
Dalam konteks Indonesia, Islam sejak lama menunjukkan karakter adaptif dan dialogis terhadap perubahan sosial. Tradisi Ramadhan di Nusantara adalah bukti integrasi antara norma syariat dan ekspresi budaya lokal.
Transformasi digital bukan tanda kemunduran, melainkan bagian dari dinamika historis. Tantangannya adalah menjaga agar adaptasi tetap berakar pada orientasi moral dan spiritual.
Bagi generasi muda, khususnya pelajar Muhammadiyah, fenomena takjil war dan tren digital Ramadhan merupakan ruang kontestasi makna. Budaya populer tidak perlu dihapus, tetapi dikelola secara kritis.
Ramadhan harus tetap diarahkan pada penguatan pengendalian diri, empati sosial, dan pembaruan moral. Di sinilah pentingnya rasionalitas, etika kerja, dan semangat tajdid agar praktik keagamaan tidak tereduksi menjadi sekadar simbol seremonial.
Dinamika Ramadhan kontemporer bukanlah pertanda hilangnya makna, melainkan proses negosiasi makna dalam masyarakat modern.
Ramadhan akan tetap menjadi momentum transformasi peradaban apabila umat, terutama Gen Z, mampu mengintegrasikan spiritualitas, rasionalitas, dan tanggung jawab sosial secara seimbang.
Dengan demikian, Ramadhan tidak berhenti sebagai perayaan simbolik atau festival konsumsi, tetapi menjadi ruang strategis membangun peradaban Islam yang berkemajuan dan berakar pada nilai autentik.






