Potensi di Desa Pattiro Riolo Kabupaten Bone, Layak Menjadi Perhatian Pemerintah

  • Bagikan

Oleh: Ilham Maliki Akmal

Ahad, (6/6/2021)

Kalau mendengar buah durian dan rambutan selain kulitnya yang berduri dan buahnya yang manis, tentu yang melekat di dalam kepala masyarakat Bone tentu adalah daerah penghasilnya, Desa Pattiro Riolo, Desa yang memiliki kurang lebih 2,100 jiwa penduduk dengan luas wilayah 15,4 km2 menjadi penghasil raja buah dan buah tropis terbaik di Kabupaten Bone. Tidak sedikit masyarakat dari luar yang berdatangan untuk membeli dan menikmatinya ketika telah memasuki musimnya. Namun, kedua buah tersebut hanya dapat satu kali waktu panen dalam satu tahun. Biasanya waktu yang paling tepat untuk berkunjung di desa ini yaitu saat memasuki awal tahun dan puncaknya terdapat di bulan Februari. Desa Pattiro Riolo yang berada di Kecamatan Sibulue adalah yang terluas setelah Desa Pattiro Sompe. Berbatasan langsung dengan Desa Pakkasalo di bagian selatan, Desa Letta Tanah di bagian barat, dan Desa Sumpang Minangae di bagian utara. Dan juga terdapat empat dusun di dalamnya yaitu dusun Cekkoe, dusun Cumene, Dusun Pattiro Riolo, dan Dusun Bulu Dama.

Selain menjadi penghasil buah durian dan rambutan, sebagian besar masyarakat Desa Pattiro Riolo adalah petani cengkeh. Biasanya sekali panen harga jualnya ditaksir mencapai Rp. 170.000,- hingga Rp. 200.000,- per kilonya. Namun, harga itu tidak lagi berlaku di masa sekarang. Karena cengkeh yang dijual harus berkali-kali berpindah tangan, bahkan sampai lima kali. Hal itu lah yang menyebabkan harganya turun drastis menjadi hanya Rp. 60.000,- hingga 75.000,-. Turunnya harga cengkeh membuat masyarakat khawatir karena cengkeh tersebut hanya bisa panen satu kali dalam kurun waktu tujuh bulan. Setelah panen, cengkeh harus diberi pupuk. Masalahnya pupuk sangat sulit untuk didapatkan. Belum lagi kalau tiba musim kemarau, masyarakat kesulitan untuk mendapatkan air karena di Desa Pattiro Riolo ini belum memiliki sumber air besar untuk pertaniannya.

Selain sumber air dan pupuk yang menjadi masalah, Desa ini juga belum memiliki BumDes. Menurut informasi dari aparat kantor desa, tahun ini BumDes telah dianggarkan dan akan direncanakan pembangunannya. Hanya saja ini masih menjadi buah bibir di tengah-tengah masyarakat. Karena BumDes memiliki peran yang sangat penting untuk pertumbuhan perekonomian desa. Maka dari itu diharapkan nantinya BumDes yang dibentuk mampu dikelola dengan baik oleh orang-orang yang ahil dibidangnya agar dapat menumbuhkan sinergi antara masyarakat dan pemerintah desa. Dalam praktiknya, BumDes bisa menjadi pusat perekonomian masyarakat, di mana hasil tani dan hasil laut nantinya dikelola oleh BumDes dan harga jual bisa lebih stabil. Masyarakat tidak perlu khawatir dan takut jika penghasilannya menurun. Sebab dengan keberadaan BumDes akan memudahkan masyarakat untuk menjual hasil tani dan lautnya. Selain menjadi pengelola hasil mata pencarian masyarakat, BumDes juga bisa menjadi supplier atau mampu menyediakan pupuk yang dapat dijangkau oleh masyarakat. Inilah tugas BumDes, bukan semakin menyulitkan, tetapi memudahkan.

Ketika memasuki musim buah durian dan rambutan, biasanya masyarakat membuat rumah persinggahan di depan rumah mereka—di tepi jalan—dan memperdagangkannya. Para pembeli yang datang dari luar desa hanya tinggal memilih di mana mereka ingin berhenti dan membeli. Di posisi inilah tidak terjalin kestabilan harga. Karena pedagang menjual dengan harga yang berbeda-beda bahkan tidak sedikit yang menetapkan harga yang sangat tinggi. Bukan hanya karena melihat dari ukuran dan kualitas buah, tetapi juga memandang siapa dan dari kalangan mana yang akan membelinya. Hal serupa juga terjadi dengan cengkeh. Karena harus berkali-kali berpindah tangan hingga bisa sampai ke konsumen, akhirnya harga jual juga harus ikut turun tiga kali lipat.

Dari informasi-informasi di atas yang berhasil saya temukan saat berada di Desa, mampu membuka pikiran dan memberikan pandangan saya untuk merekomendasikan pembangunan BumDes yang paling tepat dan sesuai kebutuhan desa. Yaitu membuat koperasi sebagai badan usaha yang dapat bermanfaat untuk masyarakat dan meningkatkan perekonomian desa. BumDes akan menjadi perantara untuk masyarakat desa dalam memperdagangkan hasil tani dan lautnya. BumDes juga bisa membangun relasi dengan pengusaha-pengusaha atau pembeli langsung yang nantinya akan menjadi konsumen. Di mana cengkeh yang awalnya berpindah tangan lima kali, akhirnya bisa hanya dengan dua kali. Ketika memasukin musim durian dan rambutan, BumDes mengambil peran sebagai fasilitator untuk menciptakan pasar buah dengan mengumpulkan penjual di satu tempat yang menjadi lokasi bertemunya dengan pembeli serta menetapkan harga yang sesuai. Selain itu BumDes juga menyediakan produk simpan-pinjam yang dapat lebih memudahkan masyarakat. Misal masyarakat bisa meminjam pupuk atau bibit yang disediakan oleh BumDes dan nantinya ketika panen, BumDes mengambil bagian dari hasil penjualan dan itu menjadi pemasukan untuk desa.

Pemasukan yang didapatkan oleh BumDes akhirnya bisa membuat fasilitas untuk lebih memudahkan lagi masyarakat, seperti membuat penampungan air sebagai sumber air terbesar yang ada di desa serta penyediaan pupuk dan bibit yang mudah dijangkau oleh masyarakat. Hal ini mungkin terdengar sulit, tetapi jika BumDes dapat dikelola dengan baik oleh orang-orang yang ahli di bidangnya, tentu akan menjadi lebih mudah dan terstruktur. Selain berperan sebagai koperasi rakyat, BumDes juga dapat membuka usaha dengan menjual kebutuhan pokok rumah tangga atau sembako yang tentunya lebih terjamin dan harganya terjangkau untuk masyarakat.

Desa Pattiro Riolo sangat potensial sekali. Dengan wilayahnya yang luas dan sumber daya alam yang besar mampu meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat. Pemerintah setempat harus lebih bisa peka terhadap kondisi pedesaan. Secara sadar kita tahu bahwa Desa adalah wilayah yang potensial. Dalam pandangan ekonomi, Desa dapat menjadi penyangga di suatu wilayah. Seharusnya masyarakat desa lebih dulu yang sejahtera, lalu masyarakat yang ada di kota. Karena sampai saat ini akses menuju Desa Pattiro Riolo jauh dari kata baik. Andai saja akses ke desa mendapat perhatian, tentu aktivitas ekonomi bisa berjalan lebih lancar. Peningkatan akan lebih cepat.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x250