ENEWS BONE •• Kepala Desa Lebonge Kecamatan Cenrana Kabupaten Bone, Jumriadi akhirnya turun tangan menangani polemik penjualan pupuk subsidi di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) di wilayahnya.
Jumriadi menggelar pertemuan membahas keluhan ini yang dihadiri oleh petani dan pengecer di Balai Desa Lebonge, Kamis (23/1/2025).
“Hasil rapatnya, pengecer akan menjual sesuai harga HET urea Rp. 112.500 phoska Rp. 115.000 dan distributor akan mengantar langsung kepengecer karena jalan sudah bagus,” kata Jumriadi kepada Enews Indonesia, Jumat (24/1).
Sebelumnya diwartakan, polemik penjualan pupuk subsidi di atas HET di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan (Sulsel) yang merupakan tanah kelahiran Menteri Pertanian (Mentan) RI Andi Amran Sulaiman menjadi perbincangan hangat masyarakat.
Diketahui, pengecer pupuk subsidi di Desa Lebonge, Kecamatan Cenrana, Kabupaten Bone diprotes beberapa petani lantaran menjual pupuk di atas HET.
Salah seorang petani menjelaskan, harga pupuk Urea yang sejatinya Rp112.500, dijual pengecer di Desa Lebongnge seharga Rp120.000 per sak, lalu disalurkan ke ketua kelompok tani dan harga kembali naik Rp130.000 ketika anggota kelompok mengambil di rumah ketua kelompok Tani.
“Jika ketua kelompok tani mengantar ke rumah anggota kelompok tani maka bertambah biaya Rp135.000,” ungkap salah seorang petani (meminta identitas tak disebutkan) kepada Enews Indonesia, Selasa (21/1/2025).
Begitu pula dengan pupuk lainnya seperti pupuk Phonska harga Het Rp. 115.000 dijual kelompok Tani dengan harga Rp. 122.500.
Petani lainnya menyebut ada satu orang pengecer di Desa Lebongnge beralasan bahwa kenaikan biaya karena mobil pengangkut distributor pupuk kepengecer tak bisa masuk ke kampung dikarenakan akses jalan di Desa Lebongnge jelek.
“Padahal nyatanya, jangankan empat roda, 10 roda pun bisa masuk ke daerah kami. Kami duga itu hanya akal-akalan semata,” kata petani lainnya.
Ia menjelaskan bahwa ketua kelompok tani juga ambil untung dalam penjualan pupuk subsidi tersebut.
“Pupuk sampai ke kami harganya Rp135 ribu, Rp10 ribu biaya kepada ketua kelompok tani, 5.000 untuk biaya transportasi kekami. Kalau tidak diantarkan itu pupuk ke petani biayanya Rp130 ribu. Ketua kelompok tani ambil keuntungan 15 ribu. Kita ini dibisnisi,” ujarnya kesal.
#Mimienk Lee






