Sisa Nasi dan Lauk di Kotak MBG SMKN Paku Polman, SPPG Binuang Paku Diminta Evaluasi

Ketgam: Menu MBG SMKN Paku yang di suplai SPPG Binuang Paku, Polman.
Ketgam: Menu MBG SMKN Paku yang di suplai SPPG Binuang Paku, Polman.

ENEWS, POLMAN ••》Sejumlah kotak makanan program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di SMKN Paku, Kecamatan Binuang, Kabupaten Polewali Mandar, masih menyisakan nasi dan lauk setelah dikonsumsi siswa. Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai penerimaan siswa terhadap menu yang disajikan serta efektivitas penyediaan makanan bergizi di sekolah.

Temuan itu diperoleh tim Enewsindonesia.com saat melakukan pemantauan pelaksanaan MBG di SMKN Paku, Kamis (1/10/2026).

banner 728x250

Dari pantauan di lapangan, sejumlah kotak ompreng yang telah digunakan masih berisi sisa makanan. Pada salah satu wadah terlihat nasi putih, potongan ayam, lauk lainnya, sayuran hingga buah yang belum dihabiskan.

Temuan tersebut menjadi penting untuk dievaluasi mengingat makanan yang disalurkan melalui program MBG merupakan bagian dari pemenuhan kebutuhan gizi peserta didik.

Persoalannya bukan sekadar adanya makanan tersisa, tetapi mengapa makanan yang telah disiapkan tidak seluruhnya dikonsumsi oleh siswa.

Apakah porsinya terlalu banyak, jenis menunya kurang diminati, cita rasanya tidak sesuai selera siswa, atau terdapat faktor lain yang memengaruhi tingkat konsumsi?

Jawaban atas pertanyaan tersebut diperlukan agar penyelenggaraan MBG tidak berhenti pada tahap makanan sampai di sekolah, tetapi juga memastikan makanan tersebut benar-benar dikonsumsi dan memberikan manfaat gizi kepada penerima.

Pihak SMKN Paku menyebut sekolah berada pada posisi sebagai penerima manfaat program. Menu yang diterima siswa juga disebut cukup bervariasi.

“Kami hanya penerima manfaat. Biasanya juga ada menu daging, menunya bervariasi, biasa ada telur, tahu dan menu lainnya,” ujar pihak sekolah.

Dengan adanya temuan sisa makanan tersebut, Korwil SPPG Polewali Mandar maupun SPPG Binuang Paku perlu melakukan evaluasi langsung, khususnya terhadap menu, porsi, komposisi makanan dan tingkat penerimaan siswa.

Jika jenis menu tertentu secara berulang meninggalkan banyak sisa, kondisi itu semestinya menjadi data evaluasi dalam penyusunan menu berikutnya.

Selain menyangkut efektivitas program, makanan yang tidak dikonsumsi juga berpotensi menjadi limbah apabila tidak dikelola dengan baik.

Karena itu, pemantauan tidak cukup hanya memastikan makanan telah didistribusikan kepada siswa. Tingkat konsumsi dan makanan yang tersisa juga penting menjadi indikator evaluasi pelaksanaan MBG di lapangan.

Hingga berita ini diterbitkan, Enewsindonesia.com masih berupaya meminta konfirmasi kepada pihak terkait mengenai menu yang disajikan, standar porsi, tingkat konsumsi siswa serta mekanisme evaluasi terhadap makanan yang tersisa. (Redaksi)





Tinggalkan Balasan