Gabah Petani Tidak Terserap Bulog, Warganet: Diperhatikan Bila Pilkada

Poyongan gambar video padi milik petani di Bone yang belum terserap Bulog. (ENews)

ENEWS BONE •• Perum Bulog Kabupaten Bone menjadi sorotan sejumlah pihak beberapa hari ini lantaran banyaknya petani yang mengeluh karena mayoritas gabah mereka tidak diserap Bulog.

Polemik ini juga mengundang pro kontra di beberapa platform media sosial. Bahkan, salah seorang warganet menulis bahwa petani akan diperhatikan bila menjelang pilkada.



“Sabar bosku, petani diperhatikan bila jelang pilkada,” tulis akun Tiktok @An***** pada postingan potongan berita keluhan petani tentang Bulog di akun Tiktok @Info Kejadian Bone, Rabu (26/3/2025).

Potongan komentar warganet.

Warganet lainnya pada postingan tersebut juga berharap pihak berwenang segera melakukan tindakan terkait polemik ini.

“Petani di sini mengeluh, kah tidak ada yang mau angkat gabahnya. Ada lagi yang mau angkut tapi jauh dari harga ketetapan,” tulis akun Tiktok @Tan*****.

Potongan komentar warganet.

Di akun media sosil Whatsapp, seorang warganet Bone memvideo gabah miliknya dan mengaku padinya sudah 6 hari tak dijemput Bulog.

“Minnajaki (habis kita. Red), malam ke-6 Bulog belum datang,” tulis akun @Mus***

Potongan komentar warganet.

“Bulog tidak pernah ke lapangan cek harga, di sini harga Rp6150,” tulis akun Tiktok @Ar****.

Potongan komentar warganet.

Namun beberapa warganet Bone juga menyebut bahwa gabah petani banyak yang belum layak panen.

“Justru petanilah yang membuat dirinya rugi karena tidak sabar nunggu waktu panen yang tepat,” tulis akun Tiktok @Sa******.

Potongan komentar warganet.

“Bingung juga ya, Bulog dipaksa membeli gabah petani yang luasnya ratusan ribu hektar se-Sulsel. Sedangkan Bulog tidak memiliki fasilitas (minim) untuk memprosesnya menjadi beras,” tulis akun Tiktok @No****.

Potongan komentar warganet.

Sebelumnya diwartakan, sejumlah petani di Kabupaten Bone mengeluhkan sikap Perum Bulog Bone yang dinilai merugikan mereka.

Kepala Desa Arasoe, Andi Amal Pasha mengungkapkan, para petani di wilayahnya menyebut bahwa pihak Bulog tidak menyerap semua gabah petani.

“Selain itu, kurangnya armada Bulog yang menjemput gabah petani kami. Jadi gabah petani yang sudah bermalam ditolak oleh Bulog dengan alasan bahwa gabahnya sudah rusak. Gabahnya rusak kan, gara-gara armada Bulog tidak kunjung datang,” kata Andi Amal kepada ENews Indonesia, Selasa (25/3/2025).

Tak hanya itu kata Andi Amal, Bulog juga tidak mau menjemput gabah petani apabila di bawah 5 Ton.

“Bulog tidak pernah turun ke lapangan melihat kondisi petani. Gabah petani dibeli tengkulak di bawah Rp 6500. Petani kami beralasan, dari pada gabah mereka rusak lebih baik dijual Rp 6.300,” ungkapnya.

“Menjerit petani di desaku ndi’ (adik. Red) gara-gara aturan seperti ini,” tandasnya. (Red)





Tinggalkan Balasan