ENEWS, MAJENE ••》Antrean kendaraan untuk mendapatkan BBM jenis Pertalite di SPBU 75.914.01, Kecamatan Tammero’do Sendana, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, kian panjang.
Kondisi tersebut terjadi sejak 3 September hingga 9 September 2026. Antrean didominasi kendaraan roda dua dan roda empat yang rela berjam-jam menunggu untuk mendapatkan Pertalite.
Ironisnya, antrean panjang terjadi meski pasokan BBM ke SPBU tersebut disebut tetap masuk setiap hari. Kondisi itu pun memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat mengenai kecukupan pasokan dan tingginya permintaan BBM di lapangan.
Salah seorang pengendara yang ditemui Enewsindonesia.com, Rabu (9/9/2026) sekitar pukul 21.02 WITA, mengaku telah mengantre sejak pukul 12.00 siang.
“Saya sudah mulai mengantri sejak pukul 12.00 tadi siang hingga malam ini masih di sini. Sekarang sudah pukul 21.02 WITA,” ujarnya.
Menurutnya, saat mulai mengantre, Pertalite bahkan belum tersedia di SPBU. Namun, panjangnya antrean membuat dirinya memilih masuk dalam barisan kendaraan agar tidak semakin tertinggal.
Kondisi semakin parah setelah terjadi pemadaman listrik sejak sekitar pukul 16.00 WITA hingga 18.30 WITA. Pelayanan pengisian BBM baru kembali berjalan sekitar pukul 19.00 WITA setelah listrik menyala.
Pengendara tersebut mengatakan, lamanya antrean tidak menjamin dirinya mendapatkan BBM. Sejumlah pengendara, kata dia, bahkan telah menunggu berjam-jam tetapi tidak kebagian karena stok Pertalite habis ketika giliran mereka hampir tiba.
“Sudah banyak yang berjam-jam mengantri. Saat tinggal selangkah lagi menuju pengisian, justru stok habis. Itu yang membuat kecewa,” katanya.
Ia mengaku tetap memilih membeli Pertalite di SPBU meski harus menghabiskan waktu berjam-jam. Pilihan itu diambil karena harga Pertalite di tingkat pengecer disebut jauh lebih mahal.
“Daripada kami beli di pengecer dengan harga yang melambung tinggi, kami lebih baik mengantri di SPBU. Harga di pengecer sekarang sudah Rp30 ribu per liter,” ujarnya.
Jeriken Dibatasi 10 Liter
Selain kendaraan pribadi, antrean juga diikuti pengguna jeriken yang mengaku membutuhkan Pertalite untuk aktivitas pertanian dan perikanan.
Pihak SPBU mengaku telah membatasi pengisian bagi petani dan nelayan pengguna jeriken maksimal 10 liter per orang.
Kepala SPBU Tammero’do, Basri, mengatakan pembelian tersebut hanya dilayani bagi petani dan nelayan yang memiliki barcode dari Dinas Pertanian maupun Dinas Perikanan.
“Khusus petani dan nelayan yang menggunakan jeriken, kami berikan terbatas hanya 10 liter per orang,” kata Basri kepada Enewsindonesia.com, Senin (7/9/2026).
Ia menegaskan, pengguna jeriken tanpa barcode tidak akan dilayani.
Basri juga mengaku telah memberikan instruksi kepada distributor agar tidak melayani pembelian BBM menggunakan jeriken dalam jumlah besar.
“Saya sudah menegaskan kepada distributor saya agar tidak memberikan minyak kepada pengguna jeriken dalam jumlah banyak,” tegasnya.
Pasokan 6.000-8.000 Liter Sekali Datang
Basri menyebut pasokan Pertalite yang diterima SPBU Tammero’do berkisar 6.000 hingga 8.000 liter setiap tangki.
Namun, volume tersebut dinilai belum mampu memenuhi seluruh permintaan, terutama ketika antrean kendaraan sudah sangat panjang.
“Pasokan yang kami terima itu bervolume 6.000 liter hingga 8.000 liter. Memang terkadang antrean belakangan tidak kebagian,” ujar Basri.
Pernyataan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa persoalan antrean bukan hanya soal panjangnya barisan kendaraan, tetapi juga berujung pada pertanyaan mengenai keseimbangan antara pasokan dan kebutuhan BBM masyarakat.
Di tengah antrean yang berlangsung berjam-jam, warga kini menunggu kepastian agar kelangkaan Pertalite tidak terus berulang dan pengendara tidak kembali menjadi pihak yang paling dirugikan.
Reporter: M. Kamil






