ENews Indonesia •• Bola Soba yang menjadi salah satu warisan kerajaan Bone kini tinggal sisa-sisa bekas kebakaran yang menghanguskannya beberapa bulan lalu.
Pemerintah Daerah (Pemda) Bone dan masyarakat Bone khususnya pemerhati budaya amat menyayangkan terjadinya kebakaran itu hingga memusnahkan Bola Soba sebagai salah satu situs sejarah dan situs budaya.
Bola Soba bukanlah sekadar sebuah bangunan bersejarah di Bone. Ia merupakan simbol eksistensi kerajaan Bone di masa lalu. Bola Soba adalah simbol yang menyimpan demikian banyak sejarah epik peradaban Bone yang sarat nilai-nilai persaudaraan dan persahabatan. Bola Soba adalah monumen sejarah heroisme, solidaritas, kehormatan, dan harga diri orang Bone.
Wujud Bola Soba tentu tidak lahir begitu saja. Ia merupakan kristalisasi dari hasil kontemplasi arsitekturik para panrita kerajaan Bone. Para panrita telah mewujudkannya ibarat meramu lempung menjadi sebentuk piala masa depan.
Bola Soba di masa lalu merupakan tempat raja Bone menerima tamu kehormatan dan tempat mengadakan perjamuan dan aktifitas penting kerajaan.
Seiring Bone tidak lagi merupakan sebuah kerajaan sebagai konsekwensi telah bergabung ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Bola Soba tidak lagi berfungsi sebagai salah satu sarana pemerintahan. Pemda Bone kemudian merawat Bola Soba sebagai warisan budaya.
Pasca musibah kebakaran yang menghanguskan seluruh bangunan utama, Pemda Bone tentu memiliki kewajiban sejarah dan kewajiban moral untuk merekonstruksi kembali Bola Soba agar generasi-generasi Bone tidak kehilangan warisan budaya yang menyimpan begitu banyak nilai-nilai kearifan lokal.
Nilai-nilai pembelajaran tentang watak, karakter, dan eksistensi orang Bone sebagai salah satu entitas etnis terhormat di muka bumi.
Di masa depan, Bola Soba semestinya bukan hanya merupakan situs budaya semata. Tuntutan perubahan seharusnya menjadi alas paradigma bagi Pemda untuk membuat reorientasi fungsi Bola Soba.
Di masa depan selain berfungsi sebagai situs budaya, Bola Soba seyogyanya memiliki fungsi edukasi di sektor pendidikan formal, memiliki fungsi sosial, serta tidak kalah pentingnya adalah harus memiliki fungsi ekonomi.
Inklusvitas pengelolaan Bola Soba yang berorientasi pada fungsi pendidikan bertujuan mengoptimalisasi muatan kurikulum pendidikan nilai-nilai kearifan lokal bagi pelajar di sekolah-sekolah.
Di bidang sosial budaya, Pemda Bone sebaiknya membuka akses seluas-luasnya bagi masyarakat untuk memanfaatkan Bola Soba misalnya untuk resepsi pernikahan, seminar, dan lain-lain.
Konteks ini penting agar nilai-nilai persaudaraan dan persahabatan tetap lestari serta masyarakat mempunyai empati sebagai pemilik warisan leluhur.
Fungsi ekonomi dapat diwujudkan secara optimal apabila Bola Soba yang baru nantinya dibangun di area objek wisata yang memiliki potensi pariwisata yang bervisi jauh ke depan.
Pada sisi ini pengelolaan Bola Soba nantinya bisa diharapkan memiliki kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah atau paling tidak, Bola Soba dapat membiayai sendiri pengelolaan dan pemeliharaanya.
Saya sebagai salah satu warga Bone sangat mengapresiasi Pemangku Lembaga Adat Bone serta para pemerhati budaya di Bone khususnya para figur dan tokoh yang mengasosiasikan diri dalam forum paguyuban Assitobonengeng yang tidak henti-hentinya menggalang kesadaran dan perhatian masyarakat Bone untuk membangun kembali Bola Soba.
Kita semua warga Bone adalah pemilik Bola Soba. Kita wajib merawat dan melestarikannya. Agar wajah kita tidak pucat dalam sejarah.
Penulis: A.Supriadi, SH.,MH
(Tokoh Pemuda Kecamatan Kahu)






