Oleh: Ikbal Tehuayo
Secara umum diketahui, Makassar terambil dari kata “Mangkasara” yang bisa bermakna wujud, tampak, nyata atau keterbukaan.
Makna yang terkandung dalam kata “Mangkasara” (keterbukaan) harus dimaknai sebagai wujud kepribadian orang Makassar yang setia pada nilai kejujuran.
Makna keterbukaan tak boleh dibiarkan berkarat pada lembaran kertas, ia harus menyata dalam tutur dan hadir dalam prilaku.
Ia harus mendarah dan mendaging, bibit tumbuh kembang transparansi mewujudkan keharmonisan kehidupan sosial.
Apalagi saat ini kota Makassar berada pada musim pencarian nahkoda baru, sosok yang paling tepat menjadi kepercayaan adalah dia yang pada dirinya bersemayam sifat “Mangkasara” atau keterbukaan.
Nilai “Mangkasara” yang menjiwa pada dia yang berhajat menahkodai Kota Makassar akan selalu hadir menjadi pembimbing serta pengarah bila suatu waktu tergoda pada rayuan politik ke arah yang tak searah dengan keinginan warga Makassar.
Apalagi nilai “Mangkasara” dikawinkan dengan budaya “Siri Na Pacce” akan menjadi jimat sakti menata kelola Makassar yang sarat akan nilai-nilai budaya.
Budaya “Siri Na Pacce” bukanlah warisan kosong, bukan juga abu tanpa makna, apalagi dibilang hanya sekedar pantun orang dahulu.
Kedua Nilai ini seirama atau senada dalam bingkai demokrasi.
“Mangkasara” merindui keterbukaan kepada publik, sementara “Siri Na Pacce” menentang segala bentuk kebijakan Inkonstitusional dan menganjurkan kepekaan sosial dalam memahami penderitaan sesama manusia.
Budaya “Siri” lama diwarisi, namun tak jua usang dilahap waktu, selalu mengada di setiap hembusan nafas orang Makassar, bertanda ia masih menjadi jurus ampuh dalam pergaulan antar sesama manusia.
Efektivitas akan menyata dalam menata kelolah kota Makassar, bila budaya “Siri” masih dipegang erat oleh mereka yang diberi kewenangan oleh konstitusi mengatur atau menahkodai Kota Makassar.
Nilai “Siri” akan menjadi kontrol dan ketegasan bagi pelanggaran moral yang terjadi di lingkungan pemerintah Kota Makassar, pelanggaran moral artinya menginjak harga diri pemerintahan, bertentangan dengan budaya “Siri”
Sementara “Pacce” akan terus memproduksi dan mengembangbiakan kepekaan sosial dan pengertian atas penderitaan orang lain.
Menahkodai suatu pemerintahan dengan nilai budaya asli masyarakat setempat akan menjadi pelangi yang memikat, hingga terpanggil menciptakan sinergitas antara warga dan pemerintah Kota Makassar untuk mewujudkan impian bersama.
Kesamaan perspektif yang diperoleh dari mata air leluhur yang sama, cenderung memproduksi energi persaudaraan yang cukup efektif, dan tentu akan lebih mampu memberi dampak positif menata kelola kota Makassar.
Budaya “Sirri Na Pacce” tak boleh dibiarkan lepas dan menguap, sedini mungkin ditanamkan dalam benak generasi agar mengakar dan berbuah lagi untuk generasi selanjutnya.
Arus modernisasi dan “Big bang” informasi kian mengganas, budaya impor mulai mencekik leher generasi kita, berdampak pada punahnya budaya asli.
Kandidat yang berkontestasi pada Pilwali Kota Makassar baiknya mempunyai cara pandang budaya yang luas, dan menjadikan musim kampanye sebagai momentum menampilkan diri nya ke publik dengan membawa nilai-nilai asli yang diproduksi sendiri oleh leluhur Sulawesi Selatan, diantaranya “Siri Na Pacce”
Ketika Revolusi Prancis mempunyai liberte, egalite dan fraternite, masyarakat kota Makassar mempunyai “Siri Na Pacce” sebagai pedoman hidup bersama.
Peristiwa yang berulang bahkan nyaris tak perna libur setiap bulan di kota Makassar adalah saling membusur antar sesama, padahal mempunyai budaya “Siri Na Pacce”, ini merupakan gambaran dari hilangnya budaya ini dari warga Makassar.
Alwi Rahman budayawan Sulawesi Selatan perna menjelaskan bahwa, budaya bangsa ini sedang berhenti berproduksi, ucapannya tak berjarak dengan realitas hari ini, budaya kita tidak hanya berhenti tapi juga terkikis.
Salah satu tugas pemimpin adalah menjaga kekayaan daerah, salah satu kekayaan Makassar adalah budaya “Siri Na Pacce” maka dari itulah nahkoda baru kota Makassar harus mampu membawa nilai-nilai “Siri Na Pacce” ke dalam kebijakan politiknya.






