Bangunan Ada, Layanan Hilang: Potret Pustu Ratte Padang Majene yang Ditinggalkan Negara

Kondisi pustu di Pustu Rattepl Padang, Majene. (Dok. Kamil)

ENEWS MAJENE •• Pusat Pelayanan Kesehatan Pembantu (Pustu) di Dusun Ratte Padang, Desa Awo, Kecamatan Tammerodo, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, yang dibangun sejak 4 Juli 2010, kini terbengkalai dan rusak parah.

Kondisi ini memunculkan pertanyaan serius terkait keberlanjutan layanan kesehatan dasar di wilayah terpencil serta tanggung jawab pemerintah daerah dalam memastikan akses kesehatan yang layak bagi masyarakat.



Berdasarkan penelusuran ENews di lokasi, bangunan pustu yang sempat menjadi tumpuan harapan warga selama beberapa tahun kini nyaris tak berfungsi.

Ruangan-ruangannya dipenuhi lumpur, pintu roboh, dan plafon hancur berantakan. Tidak ada aktivitas pelayanan kesehatan sama sekali.

Kondisi pustu di Pustu Rattepadang, Majene. (Dok. Kamil)
Kondisi pustu di Pustu Ratte Padang, Majene. (Dok. Kamil)
Kondisi pustu di Pustu Rattepadang, Majene. (Dok. Kamil)
Kondisi pustu di Pustu Ratte Padang, Majene. (Dok. Kamil)

Padahal, sejak awal berdirinya, pustu yang berdiri di tengah oerkampungan itu disambut antusias oleh masyarakat. Kehadiran fasilitas ini memangkas jarak tempuh warga yang sebelumnya harus menempuh perjalanan jauh sekitar 12 kilometer dan medan terjal dengan cara berjalan kaki menuju Puskesmas Tammerodo.

“Sejak ada pustu ini, warga sangat terbantu. Terutama ibu hamil yang mau melahirkan. Dulu, sebelum pustu ada, kami sering menandu pasien ke puskesmas karena akses jalan yang sulit,” ungkap Basri, seorang guru SD Inpres 31 Ratte Padang, saat ditemui Enews, Sabtu (27/12/2025).

Selama kurang lebih empat hingga lima tahun, pustu tersebut sempat diisi oleh tenaga kesehatan, seorang bidan atau perawat yang dikenal warga dengan sebutan Bidan Maya.

Namun setelah itu, pustu ditinggalkan tanpa pengganti tenaga medis. Sejak saat itu, warga kembali harus mengandalkan puskesmas kecamatan, meski dengan risiko tinggi akibat kondisi geografis.

Ketiadaan layanan kesehatan di dusun ini berdampak langsung pada keselamatan warga. Erni, salah satu warga, mengungkapkan kekecewaannya dengan mata berkaca-kaca.

“Kami merasa sudah tidak diperhatikan lagi. Kalau ada pasien atau ibu mau melahirkan, harus ditandu lewat jalan yang terjal. Apakah ini akan kami alami selamanya?” ujarnya lirih.

Situasi ini memperlihatkan kesenjangan nyata dalam pemerataan layanan kesehatan, khususnya di wilayah pedesaan dan terpencil.

Pembangunan fisik tanpa keberlanjutan operasional dinilai hanya menjadi proyek sesaat tanpa dampak jangka panjang bagi masyarakat.

Ismail, Kepala Dusun Rattepadang, secara tegas menyampaikan harapan warga agar pemerintah tidak menutup mata terhadap kondisi ini.

“Kami berharap pemerintah dapat merehabilitasi pustu ini dan kembali mengaktifkan pelayanan kesehatan. Warga sangat membutuhkan akses yang mudah dan layak,” ujarnya.

Kasus Pustu Ratte Padang menjadi potret persoalan klasik pelayanan kesehatan di daerah terpencil: bangunan ada, tetapi layanan hilang.

Masyarakat kini menunggu kehadiran negara, bukan sekadar janji, tetapi tindakan nyata.

Reporter: Kamil





Tinggalkan Balasan