Majene  

Puluhan Tahun Terabaikan, Warga Rattepadang Majene Kembali Tandu Pasien

Momen warga lanjut usia bernama Sise (72) yang mengalami sesak nafas harus ditandu oleh warga pada Selasa, 23 Desember 2025 di Desa Rantepadang. (Dok. ENews)

ENEWS, MAJENE •• Kerusakan akses jalan di Dusun Rattepadang kembali memaksa warga menandu pasien secara manual demi mendapatkan layanan kesehatan.

Terbaru, seorang warga lanjut usia bernama Sise (72) yang mengalami sesak nafas harus ditandu oleh warga pada Selasa, 23 Desember 2025, pukul 16.25 Wita, menuju Puskesmas Tammero’do yang berjarak sekitar 12 kilometer dari dusun tersebut.



Akibat jalan yang tidak bisa dilalui kendaraan, warga harus menandu pasien sejauh 4 kilometer hingga ke titik yang memungkinkan penggunaan kendaraan.

Proses evakuasi memakan waktu 2 hingga 3 jam, sebelum pasien akhirnya dapat dibawa menggunakan kendaraan menuju fasilitas kesehatan.

Kondisi ini disebut bukan peristiwa pertama. Warga mengaku telah puluhan tahun hidup dengan akses jalan rusak tanpa perhatian serius dari pemerintah.

“Kerusakan jalan ini sudah kami rasakan selama berpuluh-puluh tahun dan tidak pernah mendapat perhatian, baik dari pemerintah desa, kabupaten, maupun provinsi,” ujar Samsul, tokoh pemuda dan mahasiswa asal Dusun Rattepadang, Selasa (23/12/2025).

Ia menilai ketimpangan pembangunan masih sangat nyata. Menurutnya, wilayah pinggiran yang mudah dijangkau justru lebih dulu menikmati pembangunan, sementara dusun terpencil seperti Rattepadang terus terpinggirkan.

“Kami berharap pemerintah lebih memperhatikan akses ke dusun kami, bukan hanya fokus di wilayah pinggiran,” tegas salah satu warga yang enggan disebutkan namanya.

Kepala Dusun Rattepadang, Ismail, membenarkan bahwa kondisi darurat akibat buruknya akses jalan sudah berulang kali terjadi.

Ia mengungkapkan, pada 15 Januari 2024 lalu, seorang ibu hamil bahkan terpaksa melahirkan di atas tandu saat dievakuasi menuju fasilitas kesehatan.

“Itu kejadian nyata dan sangat membahayakan keselamatan ibu dan bayi,” kata Ismail saat ditemui di tengah kerumunan warga.

Selain menghambat akses layanan kesehatan, rusaknya jalan juga berdampak langsung pada perekonomian warga, yang mayoritas berprofesi sebagai petani cokelat dan kakao.

Hasil panen sulit diangkut keluar dusun, biaya transportasi meningkat, dan pendapatan warga tertekan.

Warga berharap pemerintah segera menyalurkan anggaran pembangunan jalan, karena akses tersebut merupakan satu-satunya jalur penghubung mereka ke wilayah luar dusun, baik untuk layanan kesehatan maupun aktivitas ekonomi.

“Kami hanya ingin jalan layak agar hasil panen bisa dijual dan nyawa tidak lagi dipertaruhkan,” ujar seorang pedagang cokelat mewakili para petani Dusun Rattepadang.

Reporter: Kamil





Tinggalkan Balasan