Polisi Didesak Usut Tuntas Perang Kelompok Berkepanjangan di Kandea Makassar

Foto: Kapolrestabes Makassar, Kombes Pol Arya Perdana saat terjun langsung ke lokasi bentrok di Jl. Kandea Makassar. (Dok. Angki)

ENews, Makassar •• Bentrok antar kelompok warga kembali pecah di Kota Makassar. Dua kelompok warga yakni, Lembo vs Layang yang berada di Kecematan Bontoala, Kota Makassar kembali saling serang yang mengakibatkan lima unit rumah warga terbakar pada Selasa 23 September 2025.

Dalam pantauan ENews Indonesia di lokasi kericuhan, kedua kelompok yang sejak lama diketahui memiliki perselisihan ini saling menyerang satu sama lain dengan menggunakan anak panah (busur), petasan, senapan api, dan bom molotov.

banner 728x250

Sejumlah empat orang juga menjadi korban terkena panah busur di bagian betis, punggung, leher, hingga mata.

Selain itu, peristiwa itu menyebabkan beberapa korban luka dan beberapa rumah warga terbakar.

Salah seorang warga menyebut, api berasal dari bom molotov yang dilempar saat perang kelompok pecah di kawasan padat penduduk tersebut.

Hanya dalam hitungan menit, api merambat cepat membakar lima unit rumah hingga rata dengan tanah yang mengakibatkan 35 jiwa dari 7 kepala keluarga kehilangan tempat tinggal dan seluruh harta benda mereka hangus terbakar.

Salah seorang warga yang terdampak kebakaran juga terlihat menangis histeris dan merasakan trauma mendalam di tengah peristiwa tersebut.

“Semuanya terbakar, kami hanya bisa lari dan menyelamatkan anak-anak dan tak satu pun benda berharga, yang dapat kami selematkan,” tutur salah seorang warga yang terkena dampak kebakaran kepada ENews Indonesia.

Perang kelompok ini berlangsung hingga larut malam menimbulkan ketakutan dan keresahan warga di lingkungan tersebut.

Kapolrestabes Makassar, Kombes Pol Arya Perdana saat ditemui lokasi membeberkan, kuat dugaan ada aktor intelektual yang sengaja membiayai dan mengorganisir bentrokan sehingga terjadi chaos antara dua kelompok warga Layang dan Lembok tersebut.

“Kami juga mengimbau orang tua agar tidak membiarkan anak-anaknya ikut dalam tawuran, dan meminta warga untuk tidak menonton dan mendekati lokasi tawuran,” imbau Arya.

Arya menegaskan kepada masyarakat untuk tidak dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

“Kemungkinan ada aktor intelektual yang memicu tawuran antara dua kelompok ini. Kami tidak ingin ada korban berikutnya. Kami akan berupaya semaksimal mungkin dan melakukan penindakan lebih dalam lagi,” katanya.

Sementara itu, salah seorang warga mendesak, agar aparat kepolisian harus membongkar akar masalah perang kelompok di Kandea.

“Kami tidak lagi butuh perdamaian sesaat, tetapi perlindungan nyata dan jangka panjang, terutama bagi anak-anak dan masyarakat yang hidup di kawasan rawan konflik sosial ini,” ucapnya.

Jurnalis: Angki Perdana