Warga Tolak Penutupan Pelabuhan Bajoe, ASDP Tunda hingga 10 April

Foto: Rafli Fasya selaku perwakila Aliansi Masyarakat Bajoe Bersatu saat berorasi meminta evaluasi ulang kebijakan penutupan total Pelabuhan Bajoe. (ENews)

ENEWS, BONE ••》Rencana penutupan sementara penyeberangan Pelabuhan Bajoe, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, menuai penolakan dari Aliansi Masyarakat Bajoe Bersatu.

Penutupan yang sebelumnya dijadwalkan berlangsung mulai 1 April hingga 1 Juni 2026 ini dinilai dilakukan secara tergesa-gesa tanpa mempertimbangkan dampak sosial dan ekonomi masyarakat.



Penutupan dilakukan oleh PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Bajoe untuk perbaikan Dermaga 1, khususnya pada struktur movable bridge yang menjadi fasilitas utama sandaran kapal.

Selama proses perbaikan, rute penyeberangan Bajoe–Kolaka direncanakan dialihkan ke Pelabuhan Siwa, Kabupaten Wajo.

Aliansi Masyarakat Bajoe Bersatu menyatakan keberatan atas kebijakan tersebut. Dalam pernyataan resminya tertanggal 30 Maret 2026, mereka menilai keputusan penutupan total pelabuhan tidak disertai kajian komprehensif serta minim sosialisasi kepada masyarakat terdampak.

Aliansi mengajukan sejumlah tuntutan kepada PT ASDP, di antaranya meminta evaluasi ulang kebijakan penutupan total, mengoperasikan Dermaga 2 sebagai alternatif selama perbaikan, serta menunda pekerjaan sebelum ada kepastian operasional dermaga cadangan.

Mereka juga mendesak transparansi terkait tingkat kerusakan Dermaga 1 dan hasil penilaian kelayakan Dermaga 2.

Aliansi memberikan batas waktu 2×24 jam kepada pihak ASDP untuk merespons tuntutan tersebut, serta mengancam akan menggelar aksi unjuk rasa jika tidak ditindaklanjuti.

Kebijakan ini turut menimbulkan keresahan di kalangan masyarakat yang menggantungkan hidup dari aktivitas pelabuhan.

Andi Sarabba alias Abbi, tukang ojek yang telah puluhan tahun mangkal di kawasan pelabuhan, mengaku tidak pernah menerima sosialisasi resmi.

“Tidak pernah. Kita tahunya dari sesama warga saja,” ujarnya.

Ia khawatir penutupan pelabuhan akan berdampak langsung pada penghasilannya. Dalam kondisi normal, ia dapat mengangkut lebih dari 10 penumpang per hari dengan tarif Rp10 ribu per orang.

Kekhawatiran serupa disampaikan Rahmat (35), pedagang di sekitar pelabuhan.

“Kami ini bergantung dari ramainya penumpang. Kalau ditutup, pasti sepi,” katanya.

Sementara itu, calon penumpang Nurhayati (29) mengaku keberatan dengan rencana pengalihan ke Pelabuhan Siwa yang dinilai menambah jarak dan biaya perjalanan.

Menanggapi hal tersebut, PT ASDP Indonesia Ferry menyampaikan apresiasi atas dukungan masyarakat, tokoh setempat, serta aparat keamanan yang menjaga situasi tetap kondusif.

Manajemen ASDP Cabang Bajoe menyebut seluruh aspirasi masyarakat telah diterima dan didengarkan secara langsung.

General Manager ASDP Cabang Bajoe, Anom Sedayu, menegaskan pihaknya terbuka terhadap setiap masukan yang disampaikan masyarakat.

“Pada prinsipnya, kami di PT ASDP Indonesia Ferry sangat menghargai setiap aspirasi yang disampaikan. Apa yang menjadi masukan hari ini kami terima dan akan kami tindak lanjuti secara serius,” ujarnya.

Sebagai bentuk respons, ASDP menyesuaikan jadwal pengalihan lintasan. Jika sebelumnya direncanakan mulai 1 April 2026, kini diundur menjadi 10 April 2026 guna memastikan kesiapan layanan serta menjaga kelancaran aktivitas masyarakat.

“Kami menyesuaikan jadwal ini agar semua aspek layanan benar-benar siap dan tidak mengganggu aktivitas masyarakat,” tambah Anom.

Selain itu, terkait usulan pemanfaatan Dermaga Plengsengan, ASDP Cabang Bajoe akan berkoordinasi dengan manajemen pusat untuk memperoleh persetujuan sekaligus mempercepat proses perbaikan sesuai ketentuan yang berlaku.

ASDP juga menegaskan evaluasi teknis terhadap dermaga cadangan akan dilakukan secara terbuka dan bertahap, mulai dari pemeriksaan kondisi hingga pelaksanaan pekerjaan dalam waktu yang terukur, guna memastikan keselamatan operasional tetap menjadi prioritas utama.

Ke depan, ASDP menyatakan akan terus memperkuat koordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan agar setiap kebijakan tetap mengedepankan kelancaran layanan, keselamatan operasional, serta keberlanjutan aktivitas ekonomi masyarakat di sekitar pelabuhan.

Hingga berita ini diturunkan, proses komunikasi antara pihak ASDP dan Aliansi Masyarakat Bajoe Bersatu masih terus berlangsung.





Tinggalkan Balasan