Viral  

Tiktokers Aanrenaldi Minta Maaf atas Konten yang Kebablasan, Ini Kata Sosiolog

Foto: pemilik akun Aan Renaldi.

ENEWSINDONESIA.COM, BONE – Oknum pemilik akun Tiktok @aanrenaldy di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan akhirnya meminta maaf setelah konten yang diduga mengeksploitasi anak di bawah umur dikecam oelh sejumlah pihak.

Baca: https://enewsindonesia.com/oknum-tiktokers-bone-tuai-sorotan-berikan-game-ke-anak-di-bawa-umur-pilih-janda-atau-perawan/

“Mengenai video tersebut saya yang punya akun Tiktok tersebut. Saya mengucapkan mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada keluarga termasuk orang tua anak-anak tersebut, saya meminta maaf. Saya meminta maaf dan tidak akan membuat konten yang tidak mendidik,” sebut pemilik akun Tiktoker @aanrenaldi di akun Tiktoknya, Rabu (31/5/2023).



Secera terpisah, Dosen Sosiologi Universitas Negeri Makassar (UNM), Sofyan Tamrin menjelaskan, fenomena konten kreator bertanya hal dewasa pada anak sebenarnya bagian dari bentuk ekspresi pekerja sosial media.

“Hanya saja bentuk kebebasan ekspresi itu selalu berada pada ruang sosial budaya tertentu. Sehingga ia perlu bersesuaian dengan nilai sosial dan budaya yang berlaku,” tuturnya ke Enewsindonesia.com, Kamis (1/6/2023).

Baca juga: https://enewsindonesia.com/aktivis-minta-aph-tindaki-oknum-tiktokers-diduga-eksploitasi-anak-di-bawah-umur-di-bone/

Lebih lanjut dirinya mengimbau, Konten Kreator harus tahu batasan kontennya, termasuk siapa yang dilibatkan. Ia harus bertanggung jawab atas semua konten yang diproduksi.

“Mesti mempertimbangkan aspek manfaat, tidak sekedar mencari banyak viewers. Ini adalah problem penting saat ini. Dimana kuantitas, seperti jumlah viewers dan komentar lebih dikejar dibanding kualitas isi kontennya,” kata dosen yang menyelesaikan jenjang S1nya di Unismuh Makassar ini.

Lebih lanjut dia mengatakan, motivasi banyak konten memang lebih kuantitatif dibanding kuliatas manfaatnya. Mereka mengkomodifikasi konten demi kepentingan eksistensi chanel.

“Kondisi ini mengingatkan kita kembali pada urgensi literasi bagi masyarakat, secara spesifik untuk kasus ini adalah literasi digital. Dimana masyarakat tidak hanya perlu paham bagaimana menggunakan dan mengkonsumsi informasi, tetapi termasuk memproduksi informasi,” imbuhnya.

Baiknya sih, kata dia, pegiat sosial media perlu ambil bagian dalam menumbuhkan kapasitas literer masyarakat, bukan sebaliknya.

“Perlu diketahui bahwa media sosial sudah menjadi ruang sosialisasi setiap orang tanpa terkecuali anak. Jadi jangan rusak ekosistem belajar digital masyarakat dengan konten tidak bermutu,” harapnya.

“Saya kira Pemerintah, aktivisme media, perlu bekerja sama untuk mengembangkan dan menerapkan regulasi yang ketat terkait produksi dan distribusi konten. Agar tidak memanfaatkan label pegiat media sosial untuk memproduksi apa saja semaunya. Sebaliknya kita juga perlu mendukung bahkan mendorong bagaimana konten kreator untuk berkembang,” tambahnya.

Baca juga: https://enewsindonesia.com/jaksa-masuk-sekolah-edukasi-tentang-seks-bebas-dan-cyberbullying/

Diwartakan sebelimnya, oknum Tiktokers di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan dengan nama akun @aannrenaldy baru-baru ini dengan sengaja menggunakan Keyword Games kepada beberapa anak di bawah umur berisi konten sangat tidak pantas, menjadi sorotan sejumlah pihak.

Dalam vidio tersebut sangat jelas akun atas nama @aannrenaldy bertanya silih berganti kepada beberapa anak dalam barisan dengan pertanyaan pilih Janda atau Perawan.

Anak- anak tersebut menjawab bermacam macam jawaban, salah satu dari anak tersebut menjawab memilih janda karena janda lebih cantik.

(Mimienk Lee)