Penulis: Arsyad
(Dosen Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Enrekang)
Air adalah simbol kehidupan. Ia mengalir dengan tenang, menghidupi bumi, dan memberikan keseimbangan bagi alam semesta. Namun, ketika ruang-ruangnya dirampas oleh kerakusan manusia, air tidak lagi bersahabat.
Ia berubah menjadi bencana, membawa amarah yang meluluhlantakkan kehidupan di sekitarnya.
Dalam beberapa tahun terakhir, kita menyaksikan bagaimana para oligarki—kelompok kecil pemilik kekuasaan dan kekayaan—merampas ruang yang seharusnya menjadi hak air.
Lahan resapan berubah menjadi gedung pencakar langit, rawa-rawa dan hutan dialihfungsikan menjadi kawasan bisnis.
Dalam hitungan waktu, air kehilangan tempat untuk berpijak, dan kita menyaksikan banjir yang semakin sering terjadi, semakin luas, dan semakin merusak.
Ketika air kehilangan tempatnya, air tidak pernah memilih untuk marah. Ia hanya mengikuti hukum alam.
Namun, ketika sungai-sungai disempitkan, hutan-hutan digunduli, dan tanah-tanah resapan berubah menjadi beton, air dipaksa mencari jalannya sendiri.
Jalur itu bukan lagi sungai yang alami, melainkan jalan-jalan kota, rumah-rumah warga, dan bahkan merobohkan infrastruktur.
Banjir yang kini menjadi rutinitas di berbagai wilayah Indonesia, termasuk di kota-kota besar, adalah bukti dari “kemarahan” air.
Ia menggenangi pemukiman, menghancurkan lahan pertanian, merusak jalan raya, dan menghentikan roda ekonomi.
Tidak jarang, nyawa manusia menjadi korban dari bencana yang sebenarnya merupakan ulah tangan manusia itu sendiri.
Kekuasaan yang tidak bertanggung jawab para oligarki yang mendominasi penguasaan lahan sering kali bertindak tanpa memperhitungkan dampak lingkungan.
Dengan dalih pembangunan dan pertumbuhan ekonomi, mereka menggusur ekosistem alami demi keuntungan pribadi.
Dampaknya, masyarakat kecillah yang harus menanggung akibatnya.
Lahan yang dulunya hijau dan penuh kehidupan kini hanya menjadi kumpulan gedung yang menjulang.
Padahal, di sanalah air seharusnya tertampung, mengalir, dan menjaga keseimbangan. Ketika ruang-ruang ini hilang, air hanya bisa meluap dan mengamuk.
Dampak banjir yang menghancurkan
amarah air tidak hanya merendam rumah dan jalan. Ia juga menghancurkan perekonomian, terutama bagi masyarakat kecil.
Petani kehilangan ladangnya, pedagang kecil kehilangan barang dagangannya, dan buruh harian kehilangan pekerjaannya karena aktivitas terhenti.
Lebih dari itu, banjir membawa ancaman kesehatan dan nyawa. Air yang bercampur limbah dan sampah menjadi sarang penyakit. Ribuan orang harus mengungsi, kehilangan harta benda, bahkan kehilangan keluarga mereka.
Semua ini terjadi karena kerakusan segelintir orang yang mengabaikan keseimbangan alam demi keuntungan materi.
Ketika air marah, Allah yang maha kuasa Adalah penyejuknya. Dalam situasi seperti ini, hanya ada satu kekuatan yang mampu meredam amarah air: Allah Yang Maha Kuasa.
Hanya dengan kembali kepada-Nya, kita bisa menemukan solusi atas bencana yang terjadi. Allah telah memberikan kita bumi ini dengan segala keteraturannya.
Namun, ketika manusia melampaui batas dan merusak tatanan tersebut, bencana menjadi tak terhindarkan.
Kita diajarkan untuk menjaga amanah bumi, bukan merusaknya. Ketika manusia menebang pohon tanpa menggantinya, membangun kota tanpa memikirkan keseimbangan, dan membuang sampah sembarangan, maka mereka telah mengkhianati amanah tersebut.
Namun, Allah selalu membuka pintu ampunan dan petunjuk. Dengan berdoa, bertobat, dan memperbaiki diri, manusia masih bisa mengembalikan keseimbangan.
Kita harus memperjuangkan keadilan bagi air, tanah, dan seluruh ciptaan-Nya.
Refleksi dan tindakan banjir yang terus melanda harus menjadi pengingat bagi kita semua bahwa kerakusan tidak pernah membawa berkah. Para pemimpin dan penguasa harus bertindak adil, menjaga keseimbangan alam, dan mengutamakan kepentingan rakyat di atas keuntungan pribadi.
Bagi masyarakat, kita harus sadar akan pentingnya menjaga lingkungan. Tidak membuang sampah sembarangan, mendukung upaya pelestarian alam, dan bersama-sama menuntut kebijakan yang berkelanjutan.
Akhirnya, kita harus mengembalikan segalanya kepada Allah. Hanya dengan merendahkan diri di hadapan-Nya, meminta ampunan dan bimbingan, kita bisa menghadapi tantangan ini.
Karena hanya Allah yang mampu menenangkan air yang marah dan mengembalikan keseimbangan bagi bumi yang kita pijak.






