banner 728x250

Momentum Hardiknas, Azhar Arsyad: Gencarkan Sosialisasi Hidup Sehat!

MAKASSAR, ENEWSINDONESIA.COM – Memperingati Momentum Hardiknas yang diperingati pada tanggal 2 Mei 2021 ini menjadi refleksi sendiri bagi bangsa Indonesia dalam menghadapi perkembangan dunia pendidikan di masa pandemi saat ini.

Ada banyak ruang kosong yang harus segera dibenahi secara teliti demi terjaminnya hak masyarakat dalam memperoleh pendidikan yang layak. Pandemi memaksa kita untuk betul-betul kreatif serta berhati-hati agar pelaksanaan proses belajar mengajar tetap terlaksana, serta dilain pihak tetap harus menjaga agar Pandemi Covid-19 tetap terkendali agar tidak menyebarkan virus yang berbahaya ini.

banner 728x250

Azhar Arsyad menilai bahwa penanggulangan Covid-19 serta pelaksanaan sekolah tatap muka yang direncana akan melalui proses tatap muka dihari Pendidikan Nasional 2 Mei ini harus memiliki perencanaan yang matang.

“Jangan sampai kita seperti Korea Selatan, baru sehari buka, tiba-tiba kasus Covid langsung melonjak tajam,” Kata Anggota DPRD Sulsel F-PKB ini.

Dirinya menambahkan, Selain itu untuk bertindak kita memang harus memiliki perencanaan yang matang. kita perlu menggencarkan sosialisasi hidup sehat dan pencanangan protokol kesehatan disetiap sekolah demi terjaminnya pelaksanaan proses pendidikan yang aman dan sehat.

Selanjutya, Mantan ketua Ansor Sulsel juga ini menekankan perlu untuk seluruh stackholder terkait untuk lebih memperhatikan proses belajar mengajar di lingkungan pesantren. menurutnya, lingkungan pesantren berbeda dengan lingkungan pendidikan sekolah umum, karena di pesantren itu interaksi antara peserta didik itu lebih intens. Mereka 24 jam bertemu dan berinteraksi, jadi harus ada atensi khusus di situ.

Jangan sampai yang menjadi rujukan pemerintah dalam melaksanakan proses belajar tatap muka hanya menggunakan perspektif pendidikan sekolah umum saja. Sehingga bisa jadi pesantren malah menjadi klaster tersendiri penyebaran covid-19 nya.

PKB Secara sadar terus menggiatkan hidup sehat di lingkungan pesantren, termasuk dengan mengadakan pendekatan secara individu maupun kelembagaan dengan masyarakat pesantren agar berhati-hati dalam melaksanakan pendidikan tatap muka nantinya.

“Karena PKB itu sendiri sangat dekat dengan Pesantren, jadi sudah menjadi tanggung jawab kami untuk terus mendampingi serta mengadvokasi agar apa yang menjadi hak dari para santri terpenuhi,” pungkasnya.

Penulis: Kambel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *