Majene  

Keluhkan Jalan Rusak, Warga Rattepadang Majene Minta Perhatian Pemerintah

Foto: Momen warga Dusun Rattepadang, Desa Awo, Kecamatan Tammerodo Sendana, Kabupaten Majene saat bergotong royong memperbaiki akses jalan.

ENEWS, MAJENE ••》Warga Dusun Rattepadang, Desa Awo, Kecamatan Tammerodo Sendana, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, secara rutin melakukan gotong royong memperbaiki akses jalan rusak setiap Jumat.

Kegiatan tersebut melibatkan tokoh pemuda, tokoh masyarakat, tokoh agama, serta warga setempat.



Perbaikan jalan dilakukan secara swadaya dan manual sebagai bentuk kepedulian warga terhadap kondisi infrastruktur yang dinilai semakin memprihatinkan.

Kegiatan ini bermula dari inisiatif para pemuda Dusun Rattepadang, yang kemudian mendapat dukungan luas dari seluruh elemen masyarakat.

Kepala Dusun Rattepadang, Ismail, mengatakan warga secara kompak meninggalkan aktivitas masing-masing setiap Jumat pagi untuk berpartisipasi dalam perbaikan jalan.

“Setiap Jumat pagi warga sepakat meluangkan waktu untuk bergotong royong memperbaiki jalan secara manual, karena ini merupakan akses utama bagi masyarakat,” ujar Ismail saat dikonfirmasi di lokasi kerja bakti, Jumat (16/1/2026).

Ia berharap kegiatan tersebut dapat menjadi perhatian pemerintah agar kondisi jalan di wilayah mereka mendapat penanganan serius.

Menurutnya, warga telah lama menantikan perbaikan permanen dari pemerintah daerah maupun pemerintah di tingkat lebih tinggi.

Ismail mengungkapkan bahwa beberapa tahun lalu sempat dilakukan survei oleh tim dari pemerintah provinsi maupun pusat.

Bahkan, di sepanjang ruas jalan hingga Desa Panggalo, Kecamatan Ulumanda, telah dipasang patok penanda volume setiap 50 meter serta patok merah di sejumlah sungai sebagai rencana pembangunan jembatan.

Namun hingga kini, tindak lanjut dari survei tersebut belum terealisasi.

“Kami melihat tidak ada kelanjutan dari survei itu, padahal sudah bertahun-tahun berlalu,” katanya.

Kondisi tersebut membuat warga berinisiatif memperbaiki jalan secara mandiri. Ismail menilai jika terus menunggu pergerakan pemerintah, kondisi jalan justru akan semakin rusak dari tahun ke tahun.

Pada 2025 lalu, kata dia, sempat ada anggaran desa untuk pelebaran jalan. Namun hasilnya tidak bertahan lama karena struktur jalan masih berupa tanah, sehingga mudah berlubang dan rawan longsor saat musim hujan.

“Jalan ini hanya diperlebar, sementara materialnya masih tanah. Saat hujan, kondisinya cepat rusak dan sering terjadi longsor,” ujar Ismail dengan nada haru.

Ia pun berharap pemerintah dapat turun langsung meninjau kondisi jalan yang menjadi akses vital masyarakat Dusun Rattepadang.

“Harapan kami pemerintah benar-benar melihat kondisi jalan kami dan merasakan langsung kesulitan warga,” tutupnya. (Kamil)





Tinggalkan Balasan