ENEWS MAJENE ••》Terik matahari yang menyengat sejak Maret hingga Oktober 2026 perlahan mengikis harapan para petani di Kecamatan Tammero’do, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat. Di tengah tanah yang mengering, para petani berjuang mempertahankan tanaman jangka panjang mereka agar tetap hidup. Namun, upaya itu tak selalu membuahkan hasil.
Di Desa Awo, Ulidang, Manyamba, dan Seppong, kemarau berkepanjangan menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan usaha pertanian warga. Tanaman kakao, cengkeh, kemiri, rambutan, langsat, hingga sejumlah tanaman lainnya dilaporkan terdampak kekeringan. Sebagian tanaman bahkan mati meski petani telah berulang kali melakukan penyiraman.
Bagi para petani, air kini menjadi kebutuhan yang semakin sulit dipenuhi. Ketika hujan tak kunjung datang, mereka terpaksa mencari sumber air dan mengalirkannya ke kebun dengan peralatan seadanya.
Tak sedikit yang harus merogoh kocek hingga jutaan rupiah untuk membeli mesin penyedot air, mesin alkon, selang, serta perlengkapan lain demi menyelamatkan tanaman yang menjadi tumpuan hidup mereka.
Namun, di bawah panas yang terus menyengat, penyiraman rutin pun belum mampu menjamin seluruh tanaman bertahan hidup.
Uang Jutaan Rupiah, Tanaman Tetap Berguguran
Seorang petani di Desa Awo mengaku telah mengeluarkan biaya jutaan rupiah sejak kemarau melanda. Uang tersebut digunakan untuk membeli peralatan dan mesin penarik air agar tanaman kakaonya tetap mendapatkan pasokan air.
“Sejak kemarau berlangsung, saya sudah menghabiskan uang jutaan untuk pembelian alat serta mesin penarik air untuk melakukan penyiraman pada tanaman kakao saya,” ungkapnya kepada Enewsindonesia, Selasa (20/10/2026).
Pengeluaran itu dilakukan bukan untuk memperluas kebun atau menambah tanaman baru, melainkan untuk mempertahankan tanaman yang telah lama dirawat.
Sayangnya, usaha tersebut belum sepenuhnya membuahkan hasil. Petani itu mengaku puluhan pohon kakao dan cengkeh miliknya telah mati akibat kekeringan.
“Tanaman kakao saya serta cengkeh saya itu, Pak, sudah puluhan pohon yang mati akibat kemarau panjang ini,” tuturnya dengan nada sedih.
Kematian tanaman jangka panjang bukan persoalan sederhana bagi petani. Tanaman seperti kakao dan cengkeh membutuhkan waktu untuk tumbuh dan kembali produktif. Ketika pohon-pohon itu mati, kerugian yang ditanggung bukan hanya biaya perawatan, tetapi juga hilangnya potensi penghasilan pada masa mendatang.
Ketika Kebun Menjadi Tumpuan Hidup
Di Kecamatan Tammero’do, kebun bukan sekadar lahan tempat tanaman tumbuh. Bagi banyak keluarga, kebun merupakan sumber penghidupan yang menopang kebutuhan sehari-hari.
Para petani di Desa Awo, Ulidang, Manyamba, dan Seppong mengaku sangat bergantung pada hasil pertanian. Mereka khawatir, jika kemarau terus berlanjut dan semakin banyak tanaman mati, kehidupan ekonomi keluarga akan ikut terdampak.
“Kami umumnya para petani di Kecamatan Tammero’do, Desa Awo, Desa Manyamba, Desa Seppong, dan Desa Ulidang bergantung pada hasil pertanian. Jika tanaman kami mati, maka kami harus memulai dari nol lagi untuk menunjang kelangsungan hidup kami sebagai petani,” ujarnya.
Kekhawatiran itu beralasan. Tanaman yang mati harus diganti, sementara tanaman baru membutuhkan waktu dan biaya sebelum dapat menghasilkan. Dalam kondisi demikian, petani menghadapi beban berlapis: biaya penyelamatan tanaman terus meningkat, tetapi hasil yang diharapkan justru terancam hilang.
Bagi petani kecil, kondisi ini menjadi ujian berat. Mereka harus memilih antara terus mengeluarkan biaya untuk menyiram tanaman yang masih bertahan atau menyiapkan modal untuk mengganti pohon yang telah mati.
Menunggu Hujan, Menjaga Sisa Harapan
Di tengah kondisi yang semakin sulit, para petani berharap musim kemarau segera berakhir. Hujan menjadi harapan agar tanah kembali lembap, tanaman yang masih bertahan dapat dirawat, dan aktivitas pertanian perlahan pulih.
Mereka juga berharap sisa tanaman yang belum mati masih dapat diselamatkan, sementara pohon-pohon yang telah mengering bisa diganti secara bertahap.
Bagi para petani Tammero’do, berakhirnya kemarau bukan sekadar pergantian musim. Itu berarti kesempatan untuk mempertahankan kebun, menjaga sumber penghasilan, dan melanjutkan kehidupan tanpa harus benar-benar memulai semuanya dari awal.
Sembari menunggu hujan kembali membasahi kebun, para petani terus berupaya menyelamatkan tanaman yang tersisa. Di antara pohon-pohon yang mulai mengering, harapan mereka masih sama: semoga kemarau segera berlalu sebelum semakin banyak tanaman dan sumber penghidupan mereka hilang.
Jurnalis: M. Kamil





