ENEWSINDONESIA.COM, BONE ■ Optimalkan hasil pertanian, Pemerintah Desa (Pemdes) Samaenre, Kecamatan Bengo, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan melakukan pengenalan teknologi tepat guna untuk pertanian program peningkatan hasil pertanian. Kegiatan tersebut digelar di Kantor Desa Samaenre, Selasa (19/12/2023).
Kepala Desa Samaenre Syamsuddin, mengapresiasi semua pihak terutama para petani yang ingin belajar tentang elisitor biosaka untuk pertanian.
“Alhamdulillah, kita bersyukur dikarenakan petani kita mulai melek akan hadirnya biosaka ini untuk pertanian mereka. Biosaka atau elisator ini berbahan alam yang mudah dicari dan gratis bagi petani kita,” jelas Syamsuddin.
Dikatakannya, dengan berbagai kondisi pengunaan pupuk berbahan kimia dapat mengganggu pertumbuhan tanaman para petani. Salah satunya ialah mengurangi kesuburan pada tanah.
“Jangan sampai karena terlena dengan yang instansi, tanah kita tidak subur lagi. Hal ini juga harus dibarengi dengan yang alami, elisator biosaka yang berbahan alam. Tanah ini nantinya juga akan digunakan bagi anak-cucu di masa yang akan datang,” tuturnya.
Sementara itu, Suriati selaku Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Kecematan Bengo dan Lappariaja yang menjadi narasumber dalam kegiatan tersebut bahwa Biosaka merupakan ramuan larutan tumbuhan yang berperan sebagai elisitor yang dapat meningkatkan produktivitas tanaman sekaligus perlindungan berbasis ekologi untuk menjaga kelestarian lingkungan.
“Biosaka atau elisitor ini berguna untuk merangsang sel-sel tanaman agar cepat tumbuh. Biosaka ini alami, sehingga kita bisa memanfaatkan alam atau istilahnya dari alam untuk alam,” papar Suriati.
Disampaikannya, berdasarkan pengalaman beberapa kelompok tani yang biasa memberi elisitor biosaka kepada tanamannya. Hal tersebut dapat membuat tanaman menjadi subur dan cepat mengalami pertumbuhan.
“Kalau masa pertumbuhan tetap seperti jenis tanaman yang ditanam. Namun, yang menjadi pembeda berdasarkan pengalaman petani yang mencoba ialah menjadi subur dan cepat mengalami pertumbuhan,” terangnya.
Dijelaskannya, Biosaka tersebut merupakan imun bagi tanaman. Jikalau pada manusia biasa kita sebut imunisasi.
“Nah, Biosaka ini sebagai imunisasi buat tanaman,” katanya.
Terkait tanaman yang dapat dijadikan biosaka, kata Suriati, ialah tanaman yang terdapat di sekitar area pertanian, sehat dan tidak tercampur bahan kimia serta rumputnya harus 5 jenis.
“Misalkan kita mau menerapkan biosaka kepada tanaman di perkarangan. Tanaman yang diambil ialah tanaman yang sehat dan berada di sekitar perkarangan. Adapun maksimal jaraknya ialah 20 KM,” terangnya.
Lebih jauh Suriati menjelaskan, terkait pembuatan cairan dengan bahan dasar beragam rumput, daun-daunan ini ialah dengan mencampurkan air dengan rerumputan. Kemudian bahan tersebut diremas hingga menghasilkan cairan hijau pekat.
“Cairan inilah yang dimasukan ke alat penyemprot, selanjutnya dengan teknik pengabutan, disemprotkan ke area pertanian,” tutupnya.
Selain menerima materi, para petani juga langsung dipraktekkan terkait cara penggunaan Boisaka tersebut.
Turut hadir, Kepala UPT Pertanian Bengo, PPL Bengo, Babinsa, Bhabinkamtibmas, dan tokoh masyarakat setempat.
Jurnalis: Abdul Muhaimin






