ENEWS, BONE ••》Persoalan rekrutmen tenaga kerja di Pabrik Gula Bone, Desa Arasoe, Kecamatan Cina, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, kembali menjadi sorotan. Menjelang musim produksi 2026, Aliansi Lingkungan Pemuda Arasoe (ALPA) mempertanyakan keterbukaan informasi dan peluang masyarakat lokal untuk mengisi kebutuhan tenaga kerja di perusahaan tersebut.
Tokoh pemuda ALPA, Muh. Taufik, S.E., menilai keberadaan Pabrik Gula Bone yang telah berdiri selama puluhan tahun semestinya memberikan dampak yang lebih besar terhadap masyarakat di sekitar perusahaan, termasuk dalam aspek kesempatan kerja.
Menurut Taufik, persoalan utama yang perlu diperjelas adalah mekanisme penerimaan tenaga kerja. Ia menyebut informasi mengenai rekrutmen dinilai belum tersampaikan secara terbuka kepada masyarakat.
“Pertama, sistem rekrutmen tenaga kerja seolah tertutup dan tidak transparan,” kata Taufik, Jumat (21/8/2026).
Ia juga mempertanyakan tidak adanya informasi resmi yang dapat menjadi rujukan masyarakat untuk mengetahui kebutuhan tenaga kerja, persyaratan, maupun mekanisme pendaftaran.
“Kedua, tidak adanya informasi, baik melalui selebaran maupun website resmi, sebagai wadah bagi masyarakat untuk mendapatkan informasi dan melamar pekerjaan di PTN XIV (Persero) atau Pabrik Gula Bone,” ujarnya.
Taufik menilai, jika memang terdapat kebutuhan tenaga kerja, pihak manajemen seharusnya menyampaikan informasi secara terbuka agar seluruh masyarakat yang memenuhi persyaratan memiliki kesempatan yang sama.
“Seharusnya pihak manajemen memberikan informasi tersebut, baik secara tertulis maupun melalui website resmi, sehingga masyarakat dapat mengetahui proses dan persyaratan rekrutmen secara terbuka,” katanya.
Sementara itu, Irwan Kurniawan, Kabid Organisasi ALPA, menekankan pentingnya keberpihakan terhadap masyarakat sekitar pabrik dalam hal kesempatan kerja.
Menurutnya, masyarakat lokal memiliki sumber daya manusia yang cukup dan selayaknya memperoleh perhatian dalam proses penerimaan tenaga kerja.
“Alangkah baiknya jika rekrutmen tenaga kerja diprioritaskan bagi warga lokal, melihat banyaknya sumber daya manusia yang ada,” ujar Irwan.
ALPA berharap Pemerintah Desa Arasoe dapat menjadi mediator untuk mempertemukan masyarakat dengan pihak manajemen Pabrik Gula Bone. Langkah tersebut dinilai penting agar persoalan informasi dan mekanisme penerimaan tenaga kerja tidak menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.
Menanggapi sorotan tersebut, M. Amran selaku Pjs Manajer AKU PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) Pabrik Gula Bone, memberikan klarifikasi.
Ia menegaskan bahwa pada 2026 pihak perusahaan tidak membuka rekrutmen tenaga kerja baru dalam jumlah besar. Kebutuhan yang ada, menurutnya, hanya untuk mengisi sejumlah posisi yang kosong akibat karyawan pensiun dan kondisi lainnya.
“Perlu diluruskan, sebenarnya tahun ini kita tidak ada perekrutan tenaga kerja. Ini hanya penggantian yang pensiun dan jumlahnya sedikit,” kata Amran kepada ENews Indonesia, Jumat (21/8/2026).
Ia menjelaskan, sejumlah lamaran yang telah masuk ke Pabrik Gula Bone telah diproses melalui tahapan seleksi, termasuk tes tertulis dan wawancara.
“Dari lamaran yang masuk ke PG Bone, kami sudah melakukan tes tertulis dan wawancara terkait penggantian karyawan,” ujarnya.
Terkait belum adanya pengumuman terbuka, Amran mengatakan proses tersebut masih menunggu kepastian pelaksanaan musim giling Pabrik Gula Bone tahun ini. Menurutnya, hingga kini keputusan mengenai pelaksanaan giling masih menunggu persetujuan dari manajemen pusat.
“Memang belum ada pengumuman karena menunggu kepastian giling tahun ini. Ada beberapa yang menanyakan, sementara ini masih proses,” jelasnya.
Ia juga membantah anggapan bahwa perusahaan menjalankan proses penerimaan secara tidak transparan. Menurut Amran, pihaknya harus mengikuti prosedur yang telah ditetapkan perusahaan.
“Kalau kami dahulukan yang protes ke kami, malah jadi tidak transparan. Kami sudah jalankan sesuai SOP,” katanya.
Amran menambahkan, pihak manajemen juga telah berkoordinasi dengan sejumlah kepala desa di sekitar wilayah Pabrik Gula Bone terkait kebutuhan dan proses pengisian tenaga kerja.
Keterangan serupa disampaikan Kepala Desa Arasoe, Andi Amal Pasha. Ia mengatakan, berdasarkan informasi yang diterima pemerintah desa dari pihak SGN, pada tahun ini tidak terdapat rekrutmen tenaga kerja baru secara umum.
“Setahu saya, tahun ini tidak ada rekrutmen. Itu penyampaian pihak SGN. Hanya pengisian kekosongan yang mungkin sudah pensiun, meninggal atau mengundurkan diri,” ujar Andi Amal, Jumat (21/8/2026).
Ia menegaskan, mekanisme pengisian posisi tersebut merupakan kewenangan manajemen perusahaan. Namun, pemerintah desa tetap menyampaikan aspirasi agar masyarakat lokal, khususnya warga Arasoe, mendapat prioritas apabila terdapat kebutuhan tenaga kerja.
“Hal ini kami serahkan kepada pihak manajemen perusahaan terkait aturan mereka. Setiap ada pertemuan dengan pihak perusahaan, saya selaku pemerintah desa selalu menyampaikan dengan tegas bahwa harus diutamakan putra daerah, khususnya warga Arasoe,” katanya.
Andi Amal menyebut keterlibatan warga Arasoe dalam penerimaan tenaga kerja sebelumnya cukup besar. Ia mengklaim sekitar 70 persen tenaga kerja yang direkrut pada 2025 merupakan masyarakat Arasoe.
“Rekrutmen tahun 2025 kisaran 70 persen masyarakat Arasoe. Di tahun ini tidak ada rekrutmen, hanya ada pengisian kekosongan,” ujarnya.
Ia pun meminta masyarakat yang memiliki keluhan terkait persoalan di wilayah desa agar terlebih dahulu berkoordinasi dengan pemerintah desa. Menurutnya, komunikasi langsung diperlukan agar persoalan yang sebenarnya dapat diselesaikan tanpa menimbulkan kesalahpahaman.
“Jangan ada pihak-pihak yang menjadikan hal-hal sederhana menjadi riak-riak dan mengurangi nilai-nilai kebersamaan,” pungkasnya. (Redaksi)






