Oleh: Rajawiya Martapuga
Makassar, Senin 16 Juni 2026
Di dunia yang terus bergerak dalam bayang-bayang kapitalisme, ada satu cerita yang tak henti terulang: manusia yang tertunduk pada mesin dan angka, yang menggantungkan harapan pada putaran slot atau hasil akhir pertandingan bola.
Tragedi ini bukan tentang olahraga, bukan pula tentang hiburan elektronik.
Ini adalah tragedi eksistensi, di mana manusia terjebak dalam siklus pengharapan palsu, kehilangan diri mereka sendiri dalam perburuan sesuatu yang tak pernah nyata.
Di sebuah kota, pelataran Jalan Hertasning dan sekitaran Toddopuli bunyi dentingan mesin slot terdengar seperti mantra.
Koin-koin meluncur, layar menyala dengan pola warna-warni tetapi di balik setiap bunyi ada keheningan panjang ada bayangan manusia yang tertunduk, matanya menatap kosong pada layar.
Jika slot adalah lambang isolasi, perjudian bola adalah ritual sosial.
Orang-orang berkumpul, membahas peluang, memasang taruhan, apakah over under, win ataukah handicap lalu menonton pertandingan dengan napas yang tertahan bahkan kentut pun takkan jadi berhembus.
Di layar, para pemain berlari mengejar bola, sementara di luar layar, jutaan orang mempertaruhkan hidup mereka pada hasil akhir pertandingan itu.
Di balik semua ini ada satu narasi yang terus digemakan: mitos bahwa perjudian adalah jalan pintas menuju kebebasan finansial. Mitos ini menggoda karena ia menjanjikan sesuatu yang cepat, instan, dan tanpa usaha. Tetapi di balik janji itu, ada perangkap.
Perjudian bukan soal menang atau kalah, melainkan soal siklus tanpa akhir. Ketika menang, manusia terjebak pada euforia yang mendorong mereka untuk bermain lagi.
Ketika kalah, manusia terjebak pada harapan untuk membalas kekalahan itu. Dan begitulah, siklus itu terus berputar, hingga yang tersisa hanyalah kehancuran.
Pertanyaan yang lebih besar adalah: mengapa kita bertaruh? Mungkin jawabannya adalah kekosongan. Seperti fatamorgana di padang pasir dan hanya menawarkan ilusi.
Di ujung cerita ini, saya memiliki dua kawan dari desa dengan penampilan sedikit necis bermodalkan Honda Jazz merah dan Toyota Calya, meskipun saya tahu mereka memiliki mobil itu dengan cara kredit.
Hampir setiap malam duduk meracik segelas kopi dan beberapa bungkus rokok, menatap layar handphone.
Di matanya ada kelelahan, di tangannya ada sisa-sisa harapan yang telah hancur. Dan dalam keheningan itu, ia bertanya pada dirinya sendiri: apa yang telah ia kejar selama ini?
Maka mari kita berhenti sejenak, merenung, dan bertanya: di mana kita mencari makna? Sebab, di balik setiap taruhan, ada pertanyaan yang lebih besar: apa yang sebenarnya kita pertaruhkan?






