Kaum Perempuan Bersuara di Majene, Ini Tuntutannya

Puluhan mahasiswa yang menamakan dirinya Aliansi Perempuan Majene  berunjuk rasa di depan kantor Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A) Kabupaten Majene.

ENEWSINDONESIA.COM, MAJENE – Puluhan mahasiswa yang menamakan dirinya Aliansi Perempuan Majene  berunjuk rasa di depan kantor Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A) Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, Rabu (/7/12)2022). Mereka didominasi kaum perempuan.

Dalam pantauan Enewsindonesia.com, terlihat para demonstran berorasi secara bergantian dengan diwarnai pembakaran ban bekas dan meminta Dinas P3A Majene lebih maksimal dalam bekerja untuk memberikan perlindungan terhadap perempuan.

 
 

“Lindungi perempuan agar terhindar dari kekerasan seksual dan mengingat baru-baru ini telah terjadi pelecehan seksual terhadap salah satu mahasiswi di kamar kosnya,” ujar salah satu Demonstran, Urfiah.

“Kami dari Aliansi Perempuan Majene kebetulan bertepatan dengan kampanye
16 hari anti kekerasan terhadap perempuan (16Days of Activsim Against Gender violence) merupakan kampanye internasional seluruh dunia dimana kegiatan ini berlangsung dari tanggal 25 November,” tambahnya.

Tanggal 25 November, kata Urfiah, merupakan hari internasional penghapusan kekerasan terhadap perempuan hingga tanggal 10 Desember yang merupakan hari hak azasi manusia (HAM) internasional waktu tersebut adalah menghubungkan secara simbolik antara kekerasan terhadap perempuan dan HAM.

“Serta menekankan bahwa kekerasan terhadap perempuan merupakan salah satu bentuk pelanggaran HAM sehingga kami meminta Dinas yang menaungi agar betul-betul melindungi di Majene,” tuturnya.

“Kami datang untuk belajar dan menuntut ilmu tentunya kami semua ingin aman dan nyaman dan terbebas dari teror yang meresahkan contohnya aksi kekerasan seksual yang menimpa salah satu mahasiswa perempuan di kamar kosnya. Kami tidak ingin itu terjadi lagi dan tentunya pihak kepolisian agar ini menjadi perhatian khusus,” sambungnya.

Foto: Para demonstran yang didominasi dari kaum perempuan berjalan sambil meneriakkan tuntutannya. (Dok. Aldo Enews)

Sementara itu, Kadis P3A Majene Hj. Riadiyah Zakariyah mengatakan bahwa dirinya dan jajaran sangat apresiatif terhadap aksi para mahasiswa.

“Namun apa yang menjadi tuntutan mereka sudah mereka laksanakan sebagai mana mestinya yang harus di lakukan,” ujarnya.

Apabila ada perempuan yang mendapatkan kekerasan seksual, kata dia, pasti pihaknya melakukan pendampingan.

“Contohnya kasus yang menimpa pelecehan seksual salah satu mahasiswa kami mendatangkan dari psikologi agar psikis si korban dapat pulih dan bukan itu saja kasus-kasus apa saja yang berhubungan dengan tugas kami pasti kami dampingi sepanjang ada laporan,” tuturnya.

Ia menambahkan, pihaknya dan pihak kepolisian tepatnya unit PPA di Polres Majene senantiasa berkordinasi.

“Kalau tidak ada laporan lalu bagaimana kami akan melakukan pendampingan. Kami sudah bekerja semaksimal tapi kalau ada yang kurang dan tidak puas dengan pelayanan kami tolong di sampaikan,” tutupnya. (Arfan Renaldi)

Tinggalkan Balasan

error: waiittt