ENEWS, BONE ••》Kabupaten Bone dilanda kelangkaan tabung gas LPG 3 kilogram yang diduga kuat dipicu oleh meningkatnya penggunaan oleh petani. Perubahan cuaca yang ekstrem dan tidak menentu memaksa para petani untuk mengandalkan mesin pompa air dalam mengairi sawah, sehingga konsumsi LPG melonjak drastis.
Salah seorang petani di Kabupaten Bone, Heri, mengungkapkan bahwa curah hujan yang tidak stabil telah mengganggu siklus pertanian.
Awalnya, curah hujan cukup baik sehingga petani mulai memasuki musim tanam dengan optimisme. Namun, ketika bibit padi mulai tumbuh, hujan justru berhenti, menyebabkan kekeringan di lahan pertanian.
“Awalnya hujan bagus, jadi petani mulai tanam. Tapi saat bibit sudah tumbuh, hujan tiba-tiba tidak turun lagi,” kata Heri saat berbincang dengan ENews Indonesia pada hari Senin, 26 Januari 2026.
Akibat kondisi tersebut, petani yang sawahnya mengandalkan tadah hujan terpaksa menggunakan mesin pompa air untuk memenuhi kebutuhan irigasi.
Penggunaan bahan bakar minyak (BBM) dinilai sangat boros dan semakin membebani biaya produksi yang sudah tinggi.
“Kalau pakai BBM, setengah hari saja dari jam enam pagi sampai jam 12 siang bisa habis sekitar lima liter. Kalau seharian bisa sampai 10 liter,” jelas Heri.
Menurut Heri, penggunaan LPG menjadi alternatif yang lebih ekonomis bagi petani. Satu tabung gas LPG 3 kilogram dapat digunakan untuk mengoperasikan mesin pompa air selama satu hari penuh, sehingga mengurangi biaya operasional secara signifikan.
“Kalau pakai gas, satu tabung LPG 3 kilo bisa dipakai dari jam enam pagi sampai jam delapan malam,” ungkapnya.
Meningkatnya penggunaan LPG 3 kilogram oleh petani di tengah kondisi cuaca yang tidak menentu ini berdampak langsung pada kelangkaan tabung gas di pasaran.
Kondisi tersebut diperparah dengan kenaikan harga LPG di tingkat pengecer, yang semakin memberatkan para petani.
Heri berharap agar pemerintah daerah bersama instansi terkait dapat segera mengambil tindakan untuk menjamin ketersediaan LPG 3 kilogram, terutama untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga masyarakat yang rentan terdampak kelangkaan.
Ia juga meminta agar distribusi LPG diawasi secara ketat untuk mencegah penimbunan dan praktik spekulasi.
“Kami berharap pemerintah bisa memastikan gas LPG cukup untuk kebutuhan rumah tangga dan distribusinya diawasi dengan baik,” ujarnya.
Selain itu, Heri juga mengimbau kepada pemerintah agar melakukan pengawasan yang ketat terhadap pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis, khususnya terkait penggunaan tabung gas LPG 3 kilogram.
Ia khawatir jika program tersebut menggunakan LPG subsidi, maka kelangkaan akan semakin parah dan masyarakat kecil akan menjadi korban.
“Program Makan Bergizi Gratis sebaiknya tidak menggunakan LPG 3 kilo, supaya gas subsidi ini benar-benar diperuntukkan bagi masyarakat kecil dan tidak semakin langka,” harapnya.






