ENEWS, BONE •• Suasana aula Desa Tanete Harapan, Kecamatan Cina, Kabupaten Bone, tampak berbeda pada Senin pagi, 3 November 2025. Puluhan warga, sebagian besar ibu rumah tangga, duduk menyimak dengan saksama para narasumber yang berbicara tentang satu topik yang kian meresahkan: narkoba.
Acara itu bukan sekadar sosialisasi biasa. Di baliknya, ada semangat kolaborasi antara mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) IAIN Watampone Posko 12 dan Forum Bersama (Forbes) Anti Narkoba Bone, yang bersatu dalam misi mengedukasi masyarakat tentang bahaya narkoba dengan cara yang lebih dekat dan menyentuh.
“Kegiatan ini kami adakan sesuai dengan program yang telah diamanahkan kepada kami dari kampus, yaitu upaya mengentaskan kemiskinan,” ujar Ketua KKN, Rifal Aldani, dalam sambutannya.
Menurutnya, memberantas narkoba juga bagian dari upaya pengentasan kemiskinan. “Narkoba bisa menghancurkan tatanan hidup dan sosial masyarakat. Orang yang terjerumus akan kehilangan produktivitas, bahkan masa depannya.”
Dari kursi depan, Sekretaris Desa Tanete Harapan, Irmawati S. St, tampak tersenyum bangga.
Ia mengaku sangat mengapresiasi inisiatif para mahasiswa dan dukungan dari Forbes Anti Narkoba Bone.
“Saya mewakili Kepala Desa Tanete Harapan yang berhalangan hadir, menyampaikan terima kasih kepada semua pihak. Ini kegiatan yang sangat bermanfaat bagi masyarakat kami,” tuturnya.
Namun, perhatian peserta semakin tertuju ketika Ketua Forbes Kecamatan Cina, Asmarjun, naik ke podium. Dengan gaya santai tapi tegas, pria yang akrab disapa Anjung itu mengajak hadirin berpikir lebih luas tentang bahaya narkoba.
“Bagi Forbes, kita tidak perlu lagi membahas terlalu jauh tentang dampaknya terhadap kesehatan. Kita semua sudah tahu itu. Mari kita lihat dampak sosialnya, bagaimana narkoba merusak generasi dan tatanan masyarakat,” ujarnya.
Lalu, ia melontarkan kalimat yang membuat peserta tersenyum sekaligus berpikir.
“Ayo ibu-ibu, mulai sekarang kita bergosip tentang narkoba. Tapi gosip yang positif,” katanya disambut tawa ringan.
“Di mana pun, kapan pun, mari berdiskusi tentang narkoba agar memberikan dampak positif di lingkungan kita. Ceritakan bahayanya, ceritakan kisah nyata yang pernah didengar. Bahkan kalau perlu, bicarakan tentang pelakunya agar mereka sadar.”
Pesan itu mengena. Beberapa ibu mengangguk, sebagian lainnya saling berbisik, mungkin mulai membayangkan bagaimana cara menyisipkan topik narkoba dalam obrolan ringan sehari-hari.
Di sesi berikutnya, dua anggota Forbes lainnya, Syamsuddin (Ketua I) dan Akmal Kimal (Ketua III), berbagi kisah nyata.
Mereka tidak sekadar bicara teori, tetapi membawa pengalaman pribadi tentang bagaimana narkoba meninggalkan luka sosial yang dalam di Bone.
“Banyak korban kehilangan pekerjaan, keluarga, bahkan harga diri,” ungkap Akmal dengan nada lirih. “Itulah mengapa kami terus bergerak, agar orang lain tidak mengalami hal yang sama.”
Kegiatan yang berlangsung sederhana itu justru terasa hangat dan bermakna. Tidak ada panggung megah atau dekorasi mencolok, hanya semangat bersama untuk melindungi generasi dari ancaman narkoba, dimulai dari percakapan kecil di tingkat keluarga dan masyarakat.
Bagi warga Desa Tanete Harapan, hari itu mungkin menjadi awal dari “gosip” baru, gosip yang menyelamatkan.
Dan bagi Forbes serta para mahasiswa KKN, langkah kecil itu adalah bagian dari perjuangan panjang melawan narkoba di Bumi Arung Palakka. (Redaksi ENews)






