ENEWS, BONE ▪︎ Alih fungsi lahan pertanian dilaporkan terus menggerus hutan di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Tercatat rata-rata tiap tahun mencapai 0,1 hingga 3 persen alih fungsi lahan pertanian.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bone Dray Vibrianto melaporkan tercatat sekira ada sebanyak 140.135 hektare luasan lahan hutan di Kabupaten Bone, jumlah ini diyakini Dray sudah menurun secara signifikan.
“Rata-rata itu antara 0,1 sampai 3 persen berkurang tiap tahun di Bone tutupan hutannya, dan ini terus terjadi,” ungkapnya, Kamis (2/4/2024).
Lebih lanjut ia menjelaskan, kebanyakan penggerusan ini terjadi di areal-areal perbukitan, yang mana ini menjadi kawasan krusial karena menjadi kawasan penyimpan air.
Dia mencontohkan di wilayah Taccipi Kecamatan Ulaweng, arah Barat Kota Watampone, hutan di kawasan ini belakangan marak ditebang dan beralih fungsi menjadi lahan pertanian jagung.
Padahal tak jauh dari kawasan ini ada sumber air baku dari PDAM Bone.
“Kita bisa lihat coba, sepanjang jalan dari kota ke Makassar, contoh juga Taccipi kan sudah gundul semua. Di daerah Ulaweng itu kan kita punya air yang namanya Ulaweng Cinnong, yang salah satu mata air air baku PDAM,” terangnya.
Menurutnya, alih fungsi lahan ini diakui menjadi upaya dalam perluasan kawasan tanam di Bone, hanya saja masyarakat harus menyadari ada konsekuensi jangka panjang jika hutan ini terus menerus dibuka dan dijadikan lahan pertanian.
“Artinya kalau kita terus membiarkan kebiasaan demi misalnya kepentingan jangka pendek tebang, gunduli, semua pohon bukit sebagai daerah resapan air kita bisa hitung dampaknya terhadap generasi kita terhadap sumber air tadi,” katanya.
Dray menyebut masalah itu masuk dalam atensi pihaknya. Tahun ini sekira 40 ribu bibit pohon pangan akan ditanam di kawasan-kawasan bukit yang tergerus ini.
“Kemudian sosialisasi juga digencarkan untuk memberikan pemahaman pentingnya kawasan hutan ini,” ujarnya. (*)






