Ainun, Bunga Kecil dari Tacipong Harumkan Bone Lewat Bahasa Bugis

Ainun Mahya: Dari Desa Tacipong ke Panggung Bahasa Ibu Provinsi

ENEWS, BONE •• Di sebuah rumah sederhana di Desa Tacipong, Kecamatan Amali, Kabupaten Bone, seorang siswi kelas VI SD Inpres 5/81 hidup dengan keseharian yang sangat akrab dengan buku. Namanya Ainun Mahya Purnama, usia baru 11 tahun.

Pandangannya jernih, langkahnya tenang, dan tutur katanya lembut. Namun di balik itu, ia menyimpan keberanian besar untuk berdiri di panggung dan berbicara di depan banyak orang.

banner 728x250

Keberanian itu mengantarnya menjadi Juara Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) 2025 tingkat SD dan SMP se-Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat untuk kategori Pidato Berbahasa Bugis (Putri). Ajang bergengsi tersebut berlangsung di Ballroom Hotel Dalton Makassar selama dua hari, Senin hingga Selasa, 3–5 November 2025.

Di panggung itu, Ainun tidak hanya menyampaikan pidato. Ia seperti sedang membawa pulang kembali napas bahasa Bugis, membalutnya dengan suara yang mantap, penuh penghormatan pada nilai budaya. Setiap kalimat yang ia ucapkan, terasa seperti cerita lama yang kembali mendapat tempat.

Prestasi ini tentu menjadi kebanggaan besar bagi sekolahnya, desanya, dan daerahnya, Kabupaten Bone. Bagi Ainun, kemenangan ini bukan sekadar piala dan pujian. Ini adalah pintu menuju arena yang lebih tinggi, tempat ia akan kembali membawa suaranya sebagai putri daerah.

“Capaian ini hasil kerja keras dan kerjasama pembina yang selama ini membimbing Ainun,” tutur salah satu guru pembinanya dengan mata yang tampak berkaca. Ada rasa bahagia yang sulit disembunyikan di sana.

Di balik pencapaian itu, rumah dan keluarga menjadi pondasi utama. Ayahnya, Nasruddin, dan ibunya, Rahma, memberi ruang tumbuh yang tenang: disiplin, kebiasaan membaca, dan penghargaan terhadap bahasa ibu.

Hal itu diamini oleh sang paman, David.
“Ainun dari kecil memang aktif. Rajin belajar dan disiplin waktu. Kalau saya ke rumahnya, yang pasti ada di depannya itu buku,” ucapnya sambil tersenyum bangga.

Ainun bukan sekadar belajar pidato. Ia sedang menjaga sesuatu yang sangat halus: bahasa dan budaya. Di zaman gawai, di tengah hiruk-pikuk bahasa populer, Ainun memilih tetap setia pada Bugis yang membesarkannya.

Ia masih kecil. Tetapi langkah kecil itu telah membuat Bone kembali bersuara di panggung provinsi.

Dan mungkin, suatu hari nanti, di panggung yang lebih besar, kita akan melihatnya kembali berdiri tegak, membawa bahasa Bugis dengan kebanggaan yang sama: lembut, kuat, dan tak tergantikan. (Red)





Tinggalkan Balasan