Warga Mantaruning Berau Protes Aktivitas Tambang Dekat Permukiman

Ketgam: Warga bersama petugas keamanan berada di sekitar lokasi aktivitas pertambangan di kawasan Mantaruning, Kecamatan Gunung Tabur, Berau, Rabu (2/9/2026). Warga datang menyampaikan keberatan terkait aktivitas tambang yang disebut berdekatan dengan permukiman.
Ketgam: Warga bersama petugas keamanan berada di sekitar lokasi aktivitas pertambangan di kawasan Mantaruning, Kecamatan Gunung Tabur, Berau, Rabu (2/9/2026). Warga datang menyampaikan keberatan terkait aktivitas tambang yang disebut berdekatan dengan permukiman.

ENEWS, BERAU ••》Keluhan warga terhadap aktivitas pertambangan yang berdekatan dengan permukiman kembali mencuat di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.

Sejumlah warga Jalan RT 15, Kampung Mantaruning, Kecamatan Gunung Tabur, mendatangi lokasi kegiatan pertambangan yang berada dalam wilayah konsesi PT Berau Coal, Rabu (2/9/2026).

banner 728x250

Kedatangan warga tersebut merupakan bentuk keberatan atas aktivitas pertambangan yang mereka nilai telah menimbulkan dampak terhadap kenyamanan dan lingkungan tempat tinggal.

Namun, upaya warga untuk mendatangi lokasi disebut mendapat penghalangan dari aparat yang berada di sekitar area pertambangan.

Warga menyebut lokasi kegiatan tambang hanya berjarak sekitar 200 meter dari permukiman. Jarak yang relatif dekat itu menjadi salah satu alasan masyarakat mempertanyakan dampak aktivitas pertambangan terhadap kehidupan mereka sehari-hari.

Salah seorang warga, Madong, mengungkapkan keluhan terutama dirasakan pada malam hari. Menurutnya, suara kendaraan dan unit operasional tambang terdengar hingga ke kawasan permukiman ketika warga sedang beristirahat.

“Kalau malam, suara unit atau kendaraan sangat mengganggu waktu warga beristirahat. Getarannya juga terasa sampai ke rumah saya dan rumah warga lainnya,” ujar Madong, Kamis (3/9/2026).

Keluhan warga tidak hanya berkaitan dengan kebisingan. Aktivitas blasting atau peledakan di area tambang juga disebut menimbulkan getaran yang dirasakan hingga ke permukiman.

Warga mengaku khawatir terhadap kondisi bangunan rumah mereka. Kekhawatiran itu semakin besar karena terdapat rumah warga yang disebut mengalami retak-retak.

“Getaran blasting terasa sampai ke rumah. Kami khawatir karena ada rumah yang mengalami retak-retak,” ujar warga.

Selain getaran, masyarakat juga mengeluhkan debu yang diduga berasal dari aktivitas operasional pertambangan. Kondisi tersebut dinilai menambah gangguan yang dirasakan warga di sekitar kawasan tambang.

Persoalan ini kemudian tidak hanya menyangkut kenyamanan masyarakat, tetapi juga memunculkan pertanyaan mengenai pengawasan terhadap aktivitas pertambangan yang berada cukup dekat dengan permukiman.

Sejumlah hal dinilai perlu mendapat penjelasan dari pihak berwenang maupun perusahaan, terutama terkait penerapan standar keselamatan, pengelolaan lingkungan, serta langkah mitigasi dampak aktivitas pertambangan.

Di antaranya, bagaimana pengendalian dampak blasting, kebisingan, debu, hingga getaran yang dirasakan masyarakat. Termasuk pula bagaimana mekanisme pemantauan terhadap kondisi bangunan warga yang berada di sekitar wilayah kegiatan.

Aktivitas pertambangan di sekitar Sungai Birang juga menjadi bagian yang perlu mendapat perhatian, khususnya terkait pengelolaan lingkungan dan potensi dampak terhadap kawasan sekitar.

Masyarakat berharap persoalan tersebut tidak berhenti pada keluhan, tetapi mendapat pemeriksaan dan penjelasan secara terbuka dari pihak-pihak yang berwenang.

Apalagi, keberadaan aktivitas pertambangan yang berdekatan dengan permukiman membutuhkan pengawasan yang ketat agar kegiatan ekonomi tetap berjalan tanpa mengabaikan keselamatan, kenyamanan, dan kepentingan masyarakat sekitar.

Hingga berita ini diterbitkan, ENEWSINDONESIA.COM belum memperoleh klarifikasi dari pihak PT Berau Coal maupun PT Madhani terkait keluhan warga tersebut. Konfirmasi dan hak jawab dari kedua pihak akan dimuat secara proporsional apabila telah diterima.

Jurnalis: Ardiansyah