Oleh: Andi Makmur Burhanuddin
Ketua Fraksi PKB DPRD Kota Makassar
Peringatan Sumpah Pemuda setiap 28 Oktober bukan sekadar mengenang ikrar persatuan 1928. Momentum ini harus menjadi pengingat bahwa masa depan bangsa, termasuk Kota Makassar, sangat ditentukan oleh bagaimana generasi mudanya menggunakan energi, keberanian, dan solidaritas yang dimiliki.
Pemuda Makassar dikenal memiliki karakter berani, solidaritas kuat, dan semangat kebersamaan. Namun, potensi tersebut tidak akan berarti jika justru digunakan untuk mempertahankan permusuhan dan melanggengkan perang kelompok.
Kita tidak boleh menutup mata terhadap konflik antarkelompok yang masih terjadi di sejumlah wilayah Makassar. Perselisihan yang berawal dari persoalan kecil kerap berkembang menjadi bentrokan yang mengancam keselamatan warga. Ironisnya, kebanggaan terhadap kelompok terkadang lebih diutamakan daripada keselamatan sesama.
Ini persoalan serius. Tidak ada kehormatan dalam kekerasan. Tidak ada kemenangan ketika seorang pemuda harus kehilangan masa depan akibat konflik yang sebenarnya bisa dicegah.
Namun, menyelesaikan persoalan ini tidak cukup hanya dengan menyalahkan anak muda. Pemerintah, keluarga, sekolah, tokoh masyarakat, dan aparat keamanan harus melihat persoalan ini secara lebih menyeluruh. Ada persoalan pembinaan, lingkungan pergaulan, ruang aktualisasi, hingga minimnya saluran positif bagi energi dan kreativitas generasi muda yang perlu mendapat perhatian.
Bukan berarti kekerasan harus dimaklumi. Setiap pelanggaran hukum harus ditindak tegas sesuai aturan. Tetapi penegakan hukum harus berjalan beriringan dengan pembinaan dan pencegahan. Anak muda yang pernah terlibat konflik juga harus diberi kesempatan untuk berubah.
Pemerintah Kota Makassar tidak cukup hanya mengeluarkan imbauan agar pemuda menjaga keamanan dan ketertiban. Harus ada langkah konkret dengan memperluas ruang kegiatan olahraga, seni, budaya, kewirausahaan, dan organisasi kepemudaan.
Anak muda membutuhkan kesempatan untuk berkarya, bukan sekadar larangan untuk tidak berbuat keributan. Mereka membutuhkan ruang untuk menunjukkan kemampuan, membangun prestasi, dan merasakan bahwa kehadirannya penting bagi pembangunan kota.
Di sinilah tanggung jawab pemerintah menjadi penting. Program kepemudaan tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial. Harus menyentuh lingkungan yang selama ini rentan konflik, melibatkan komunitas setempat, dan memberikan manfaat nyata.
Sumpah Pemuda mengajarkan bahwa perbedaan bukan alasan untuk bermusuhan. Identitas kelompok, lingkungan, dan komunitas tidak harus dihilangkan. Namun, semuanya harus ditempatkan di bawah kepentingan yang lebih besar, yakni keamanan, persaudaraan, dan masa depan Makassar.
Kita juga harus mengubah ukuran keberanian. Berani bukan berarti membalas tantangan atau ikut dalam bentrokan. Justru keberanian sesungguhnya adalah mampu menahan emosi, menghentikan provokasi, mengajak teman menghindari konflik, dan memilih jalan damai.
Saya percaya, anak muda Makassar memiliki potensi besar untuk menjadi penggerak perubahan. Mereka bisa menjadi pelaku usaha, atlet, seniman, aktivis sosial, dan pemimpin masa depan. Potensi itu jangan sampai habis hanya untuk mempertahankan konflik yang tidak memberikan manfaat bagi siapa pun.
Karena itu, momentum Sumpah Pemuda harus menjadi kesempatan untuk mengevaluasi cara kita membina generasi muda. Jangan biarkan mereka hanya hadir dalam pemberitaan karena bentrokan. Berikan ruang agar mereka dikenal melalui prestasi dan kontribusi.
Makassar membutuhkan pemuda yang berani membangun, bukan merusak. Pemuda yang kuat dalam solidaritas, tetapi juga mampu menghormati kehidupan orang lain.
Sebab, masa depan Makassar tidak ditentukan oleh kelompok mana yang paling kuat dalam pertentangan, melainkan oleh generasi mana yang paling mampu memberikan perubahan.
Sumpah Pemuda bukan hanya tentang bersatu dalam kata-kata, tetapi membuktikan persatuan melalui tindakan. Dan hari ini, salah satu bentuk pembuktiannya adalah menghentikan perang kelompok serta mengarahkan energi muda untuk membangun Makassar.






