ENEWS, MAKASSAR ••》Momentum Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2026, menjadi pengingat pentingnya keterlibatan generasi muda dalam pembangunan dan pengambilan kebijakan publik. Salah satu figur muda yang dinilai memiliki peran strategis dalam mengawal pembangunan Sulawesi Selatan adalah Andi Tenri Abeng Salangketo, S.H., M.Kn., anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan dari Fraksi Partai Gerindra.
Penilaian tersebut disampaikan Andi Alfian Maulana, S.IP., mahasiswa Program Pascasarjana FISIP Universitas Hasanuddin. Menurutnya, kehadiran generasi muda di lembaga legislatif harus dibuktikan melalui kerja nyata dan keberpihakan terhadap kepentingan masyarakat.
“Momentum Sumpah Pemuda tidak boleh hanya menjadi seremoni tahunan. Semangat kepemudaan harus diwujudkan melalui keterlibatan nyata dalam demokrasi, pemerintahan, dan pembangunan,” kata Andi Alfian, Rabu (28/10/2026).
Ia menilai, sebagai wakil masyarakat Kabupaten Bone di tingkat provinsi, Andi Tenri Abeng memiliki tanggung jawab strategis dalam memperjuangkan aspirasi daerah, terutama terkait pembangunan infrastruktur.
Menurut Andi Alfian, pembangunan infrastruktur tidak semata-mata berbicara tentang pembangunan jalan, jembatan, maupun fasilitas umum. Lebih dari itu, infrastruktur harus mampu meningkatkan konektivitas wilayah, mendorong pertumbuhan ekonomi, dan memperkecil kesenjangan antardaerah.
“Yang perlu dikawal bukan hanya realisasi proyek, tetapi juga pemerataan manfaat pembangunan. Program yang dilaksanakan pemerintah harus benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat,” terangnya.
Andi Alfian juga menekankan pentingnya fungsi legislasi, penganggaran, dan pengawasan DPRD dalam memastikan pembangunan berjalan transparan dan akuntabel.
Ia menilai, keberadaan anggota legislatif muda harus menjadi kekuatan untuk memperluas ruang partisipasi masyarakat sekaligus memperkuat pengawasan terhadap kebijakan pemerintah.
Selain itu, keterwakilan perempuan muda dalam politik dinilai menjadi bagian penting dari penguatan demokrasi. Menurutnya, sejarah Bone memiliki catatan kepemimpinan perempuan, salah satunya We Bataritoja atau Batari Toja Daeng Talaga yang pernah memimpin Kerajaan Bone.
“Sejarah kepemimpinan perempuan di Bone menjadi pengingat bahwa perempuan memiliki ruang dan kapasitas untuk mengambil peran strategis. Dalam demokrasi modern, kesempatan tersebut harus dibuka berdasarkan kapasitas, integritas, dan tanggung jawab,” jelasnya.
Ia berharap momentum Sumpah Pemuda 2026 menjadi dorongan bagi generasi muda untuk tidak sekadar hadir dalam ruang politik, tetapi juga mampu memberikan kontribusi yang terukur bagi masyarakat.
“Kepemimpinan muda harus dibuktikan melalui kinerja, keberanian memperjuangkan aspirasi, dan komitmen mengawal pembangunan yang berkeadilan,” tutup Andi Alfian.
Try Ardiansyah






