ENEWSINDONESIA.COM, BONE – Polemik pembayaran pasien yang menjalani penanganan Kuret RSUD Tenriawaru asal Watang Palakka, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, mendapat sorotan dari sejumlah pihak. Ketua PMII Cabang Bone, Muhammad Nurwan Tifta menduga ada praktek yang tidak berprikemanusiaan di rumah sakit tersebut.
Baca: https://enewsindonesia.com/pmii-bone-sebut-ada-dugaan-praktek-setan-di-rsud-tenriawaru/
Humas RSUD Tenriawaru Bone, Andi Dedy Astaman menjelaskan bahwa pihaknya sudah menyampaikan dan mengedukasi kepada keluarga pasien untuk pelayanan UHC. Dia menyebut memang pasien memiliki BPJS namun keluarga pasien menolak dan memilih pelayanan umum.
“Kami mendukung secara penuh program UHC yang diterapkan pemerintah dengan melakukan edukasi terhadap pasien namun keluarga pasien menolak pelayanan UHC dan korban tetap mau Pelayanan UMUM,” ungkapnya, Jumat (7/4/2023).
Baca juga: https://enewsindonesia.com/sistem-pembayaran-disorot-pihak-rsud-tenriawaru-bone-buka-suara/
Sulhan selaku suami dari pasien Kuret tersebut kembali menanggapi pernyataan pihak RSUD Tenriawaru Bone. Dia menyatakan tidak pernah ada pembahasan UHC saat itu.
“Sebagai masyarakat awam, tidak ada UHC yang dibahas daeng. Yang ada hanya jalur BPJS dan jalur Mandiri saja,” katanya melalui pesan tertulisnya, Jum’at (7/4/2023).
Dirinya mengisahkan, pada hari Rabu (5/4/2023) pukul 08.00 dirinya minta masuk di IRD tapi ditolak pihak RSUD.
“Katanya harus lewat Poli, saya bilang istriku sedang gawat, sakit sekali perutnya. Tapi tetap dipaksa ke Poli. Istri saya menunggu antrian di Poli Kandungan lama sekali dengan keadaan perut sakit,” ungkapnya.
Sulhan melanjutkan, pada pukul 10.00 Wita istrinya (pasien. Red) selesai diperiksa di Poli Kandungan dan membayar Rp 330.000.
“Kenapa USG mahal sekali padahal semestinya USG itu hanya 150.000? Ada kenaikan tarif kata Kasir Billing. Saya lanjut lagi ke IRD, petugas admin bertanya ada BPJSnya ibu? Sy tidak pernah mengurus BPJS dan saya mau masuk umum saja,” kata Sulhan.
“Mauki menunggu atau pulang ke rumah karena bangsal penuh? Menunggu jawabku,” sambungnya.
Lebih jauh ia menceritakan, pada Pukul 10.00-16.00 Wita istrinya berjuang menahan rasa sakit.
“Tepat pukul 02.40 Wita janin keluar serta pendarahan hingga mencapai puncak kesakitan, kepala pusing, perut sakit keras, tenaga melemah, hingga dibantu oksigen. Istri saya dibawa keruangan operasi pukul 5.00,” tutupnya.
(Abdul Muhaimin)






