ENEWSINDONESIA.COM, BONE – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tenriawaru Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan disoroti pasien asal Watang Palakka, Kecamatan Tanete Riattang Barat karena diduga memanipulasi rekap pembayaran penanganannya.
“Awalnya pihak RSUD menyebut biayanya Rp 8.700.000. Bukan kali itu saja saya menjalani Kuret yang kedua kalinya. Kuret yang pertama saya bayar kurang lebih Rp. 1.900. Lantas kenapa kuret yang kedua ini meningkat tajam?” Ungkapnya.
Dia melanjutkan, saat dimintai pembayaran Rp 8.700.000 tersebut, dirinya mempertanyakan dan ingin melihat rekap administrasi tersebut, karena menurutnya janggal.
“Setelah saya mempertanyakan rekap, pihak kasir RSUD tidak mau memberi kemudian membuat rekap yang baru dengan rincian Rp 2.262.799. Nah, itu yang membuat saya bertanya-tanya, kenapa tiba-tiba diturunkan drastis setelah saya minta rekap,” ujarnya.
“Jadi saya bayar itu Rp 2 juta lebih, karena saya dikasih bill,” sambungnya.
Menanggapi hal itu, Ketua Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Muhammad Nurwan Tifta menyesalkan hal tersebut.
“Pertanyaannya kemudian, rekap anggaran seperti apa 8.700.000 itu? Apa yang mendasari pihak RS menurunkan harga dari 8.700.000 ke 2.262.799?
Tidak ada jaminan praktek setan ini hanya terjadi sekali atau dua kali, bagaimana dengan masyarakat awam yang tidak terlalu tahu bahkan tidak berani membantah ketika ada kejanggalan,” tegasnya, Jumat (7/4/2023).
Dia menyebut, oknum pihak RS akan semakin menjadi – jadi dan mungkin rutin melakukan praktek “setan” ini jika tidak ada protes seperti ini.
“Lantas untuk apa program pemerintah daerah biaya pengobatan gratis? Lantas untuk apa penghargaan UHC yang diterima Bupati Bone? Apakh hanya sekedar pencitraan namun di lapangan tidak sesuai yang dikerja bawahannya,” sesalnya.
Dia menambahkan, PMII meminta pelaku praktek “setan” seperti itu harus diberantas dan dinonaktifkan oleh pihak RS.
“Jangan diberi ruang untuk orang jahat dan tidak berperikemanusiaan,” tutupnya.
(Abdul Muhaimin)






