ENEWS, POLMAN •• Di rumah sederhana di Pambusuang, Kecamatan Balanipa, suasana duka masih terasa pekat. Isak tangis sesekali terdengar dari ruang tamu tempat keluarga almarhum Muhammad Husain (35) berkumpul. Foto mendiang yang tersenyum ramah kini menjadi pengingat kehilangan mendalam yang sulit diterima.
Husain, warga setempat yang dikenal santun dan pekerja keras, tewas akibat penembakan brutal beberapa waktu lalu. Kepergiannya meninggalkan luka yang dalam bagi keluarga, terutama sang ibu, Rasniati Mursid. Dengan mata sembab, ia mencoba menahan air mata saat menceritakan hari-hari terakhir putranya.
“Kami kehilangan orang yang kami cintai secara kejam. Tidak ada alasan bagi pelaku untuk bebas begitu saja. Kami ingin keadilan ditegakkan,” ujarnya lirih, Minggu (2/11/2025).
Bagi keluarga, peristiwa itu bukan sekadar kehilangan, tapi juga tamparan keras bagi rasa kemanusiaan. Mereka menilai tindakan pelaku sudah melampaui batas dan pantas dijatuhi hukuman maksimal, hukuman mati.
“Kami percaya aparat akan menegakkan hukum seadil-adilnya. Tapi kami ingin hukuman setimpal. Kami tidak mau ada korban lain seperti keluarga kami,” lanjut Rasniati dengan suara bergetar.
Meski duka belum usai, keluarga tetap menyampaikan apresiasi kepada pihak kepolisian Polres Polewali Mandar yang telah bergerak cepat mengungkap kasus ini. Bagi mereka, tertangkapnya para pelaku menjadi secercah kelegaan di tengah kehilangan.
“Kami berterima kasih kepada pihak kepolisian yang sudah bekerja siang dan malam hingga pelaku berhasil ditangkap. Ini menjadi penghiburan bagi kami di tengah duka,” tambahnya.
Kasus penembakan yang menewaskan Muhammad Husain kini ditangani oleh Satreskrim Polres Polewali Mandar, dan empat orang telah ditetapkan sebagai tersangka. Polisi masih mendalami motif di balik aksi keji tersebut.
Di sisi lain, publik turut bersuara. Tagar dan seruan keadilan untuk Husain ramai di berbagai media sosial, mencerminkan betapa kuatnya empati masyarakat terhadap tragedi ini.
Bagi keluarga Husain, perjuangan mereka belum berakhir. Mereka menanti hari di mana keadilan benar-benar ditegakkan, dan hukuman bagi pelaku menjadi pelajaran agar tak ada lagi nyawa melayang karena kebrutalan.
Jurnalis: Hasbi Waluyo
Editor: Abdul Muhaimin






