Akal Sehat dan Akal Miring

  • Bagikan

Oleh: Ikbal Tehuayo

Jum’at 5/3/2021

ENEWSINDONESIA.COM – “Orang yang tidak dapat mengambil pelajaran dari masa tiga ribu tahun, hidup tanpa memanfaatkan akalnya” begitulah kalimat yang perna diucapkan Goethe. Kalimat ini pernah dikutip oleh Jostein Garder dalam bukunya yang berjudul “Dunia Sophie.”

Goethe seakan ingin memberi pesan kepada kita bahwa akal merupakan alat yang paling ampuh untuk menemukan hikmah di setiap peristiwa-peristiwa yang terjadi. Boleh saja kita punya pengalaman yang sama, tapi dalam hal mengambil hikmah bisa berbeda, tergantung bagaimana kita menggunakan akal.

Dalam perspektif Islam menyebutkan, yang bisa mengerti tentang tanda-tanda kekuasaan Allah di alam semesta hanya mereka yang berakal, (QS. Ali-‘Imran: 190-191 ). Orang yang menggunakan akal pikiran merupakan bentuk lain besyukur kepada Allah.

Akal mendapatkan posisi yang paling mulia di sisi Allah SWT. Dengan akal, manusia dipercaya oleh Sang pencipta untuk memakmurkan bumi atau menjadi pemimpin (Khalifah fil ardhi).

Selain itu, akal yang selalu digunakan untuk memikirkan ciptaan Allah dihitung dengan pahala zikir. Bahkan, perintah berpikir juga lebih banyak dari perintah beribadah. Sebab itulah orang yang punya pikiran sehatlah yang boleh melaksanakan ibadah.

Muhammad Jawad Mughniyah dalam karyanya yang berjudul “fiqih lima mazhab” mengutip satu hadits yang artinya:

Sesungguhnya malaikat Jibril turun menemui Adam, dan berkata padanya: “Sesungguhnya Allah SWT menyuruhku untuk menawarkan satu pilihan dari tiga pilihan yang ditawarkan-Nya, yaitu: akal, agama, dan rasa malu.”

Adam menjawab: “aku memilih akal.”

Maka rasa malu dan agama pun berkata: “Kalau begitu, kami bersama kamu wahai Adam, sebab Allah telah menyuruh kami agar selalu bersama akal dimanapun ia berada.”

Hadits tersebut menginformasikan kepada kita dengan jelas, kalau agama dan akal tidak bisa dipisahkan. Seorang ilmuan Yahudi, Albert Einstein pun mengakui akan hal itu, ia pernah berkata, “ilmu tanpa agama buta, agama tanpa ilmu lumpuh.”

Agama akan miskin kecerdasan intelektual dan sulit mengembangkan hukum-hukum yang bisa sesuai dengan perkembangan zaman bila ia tidak melibatkan akal.

Begitu pentingnya menggunakan akal, seorang Sosiolog dan Revolusioner Iran terkenal, Ali Syari’ati, pernah berkata, “kemiskinan sejati itu bukan karena sehari tidak makan melainkan karena sehari tidak berpikir.”

Pra kemerdekaan, bangsa ini (Indonesia) disegani dunia, mengapa? Tidak lain karena bangsa ini punya pemikir-pemikir yang tajam seperti: KH. Agusalim, Ir. Soekarno, Muhammad Hatta dan masih banyak lagi.

Untuk membinatangkan masyarakat pribumi kala itu, maka para pemikir ini harus di asingkan, atau kalau perlu, dibunuh. Terlihat amat jelas, bahwa akal pikiran merupakan kekuatan dahsyat yang membuat manusia disegani dan diangkat derajatnya.

Ilmuan kondang Yunani kuno, Aristoteles, pernah mengungkapkan satu pernyataan yang populer di kalangan masyarakat ilmiah yaitu, “manusia adalah binatang berakal.”  Berangkat dari perkataan ini, bisa kita tafsirkan secara bebas, apabila hilang akalnya maka yang tinggal adalah binatangnya. Sekurang-kurangnya pernyataan itu kita jadikan sebagai bahan berpikir untuk melihat akibat dari tindakan manusia menggunakan akal dengan baik.

Realita kehidupan hari ini mencerminkan manusia kehilangan akal sehat. Pergaulan politik misalnya, diyakini sejak awal sebagai “Bonum Commun” atau seni pengabdian menciptakan kesejahteraan umum, kini meleset menjadi manusia “Homo Homini Lupus” (serigala bagi sesama).

Penggunaan akal yang keliru akan melahirkan manusia akal-akalan alias mengidam penyakit Mitomania atau suka berbohong. Akal yang pada awalnya rahmat, ia berpotensi mengundang laknat. Penggunaan akal yang salah akan melahirkan kerusakan di atas hamparan bumi, dan tentunya mengingkari prinsip Khalifah fil ardhi.

Tipe manusia ini mempunyai kecenderungan menggunakan akal untuk merasionalkan semua kepentingannya, meski kesalahannya tampak nyata di depan kita. Ini yang disebut oleh Herbert Markus bahwa rasionalitas masyarakat modern merupakan biang keladi penindasan manusia atas manusia.

Al-qur’an menjelaskan sifat manusia semacam ini dalam surat Al-baqarah ayat 11 yang artinya: Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Janganlah berbuat kerusakan di bumi!” Mereka menjawab, “Sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan.” 

Tak hanya itu, akibat penggunaan akal yang keliru dapat membuat kita melihat orang-orang beriman sebagai orang-orang yang kekurangan akal. Al-qur’an juga menjelaskan hal yang sama pada ayat 13 surat Al-baqarah.

Jalaludin Rahmat lewat karyanya yang berjudul “Rekayasa Sosial” mengeluarkan satu pernyatan indah yang berbunyi, “Perubahan tidak akan mengarah kepada suatu kebenaran bila kesalahan berpikir masih menjebak benak kita.”

Oleh sebab itu, kesadaran akan pentingnya menciptakan daya pikir yang perpegang pada nilai kebenaran sudah harus ditanam sedini mungkin pada generasi kita, agar kelak mereka tumbuh layaknya manusia yang berakal.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x250