ENews, BONE — Setelah dua setengah tahun menjalankan program fase kedua, Program EMPOWER: Cocoa Communities to Promote Child Well-Being yang diimplementasikan oleh Save the Children Indonesia dengan dukungan Cargill resmi berakhir.
Kegiatan penutupan berlangsung pada Kamis (30/10/2025) di Maiwa Room, Hotel Novena, Jalan Jenderal A. Yani, Kelurahan Jeppe’e, Kecamatan Tanete Riattang Barat, Kabupaten Bone, dengan mengusung tema “Memanen Harapan untuk Masa Depan yang Berkelanjutan.”
Direktur Lembaga Pemberdayaan Perempuan (LPP) Bone, Dra. A. Ratnawati, menyampaikan bahwa program EMPOWER telah memberikan dampak signifikan dalam memperkuat sistem perlindungan anak berbasis masyarakat serta meningkatkan kemandirian ekonomi keluarga petani kakao di tiga kabupaten, yaitu Bone, Soppeng, dan Wajo.
“Program ini berhasil menjangkau lebih dari 9.683 penerima manfaat, di antaranya 3.723 orang di Kabupaten Bone, 3.526 orang di Soppeng, dan 2.434 orang di Wajo. EMPOWER telah menjadi model praktik baik dalam pemberdayaan masyarakat di sektor kakao berkelanjutan,” ujar Ratnawati.
Sementara itu, Ikhwana Mustafa, Senior Manager Agriculture Portfolio Lead Save the Children Indonesia, menjelaskan bahwa keberhasilan program EMPOWER ditopang oleh tiga pilar utama.
“Pertama, penguatan sistem perlindungan anak yang terlembagakan. Sebanyak 14 dari 30 kelompok Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM) kini telah diakui sebagai Lembaga Kemasyarakatan Desa (LKD) melalui Peraturan Desa (Perdes). Bahkan, dua desa di Kabupaten Soppeng telah mendeklarasikan diri sebagai Desa Ramah Perempuan dan Peduli Anak (DRPPA),” jelas Ikhwana.
Menurutnya, langkah ini berkontribusi langsung terhadap upaya pencegahan kekerasan terhadap anak di wilayah Sulawesi Selatan.
“Kedua, pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui inisiatif keuangan inklusif. Sebanyak 32 kelompok Asosiasi Simpan Pinjam Desa (Village Savings and Loan Associations/VSLAs) telah dibentuk dan beroperasi aktif. Berdasarkan survei program, 96 persen peserta mengalami peningkatan pendapatan, dengan rata-rata penghasilan meningkat dari Rp1,7 juta menjadi Rp3,2 juta per bulan,” lanjutnya.
“Ketiga, peningkatan kapasitas petani dan pelibatan generasi muda. Program EMPOWER telah mendorong terbentuknya enam kelompok petani muda kakao yang tidak hanya mendapat pelatihan Good Agricultural Practices (GAP), tetapi juga aktif mengelola lahan percontohan pertanian berkelanjutan. Bahkan, lima dari enam kelompok tersebut telah berhasil melakukan penjualan bibit cokelat,” tambahnya.
Keberhasilan program ini tidak lepas dari dukungan pemerintah daerah dan partisipasi masyarakat. Fadli Usman, perwakilan program EMPOWER, menegaskan bahwa kolaborasi erat antara pemerintah, masyarakat, dan pihak swasta menjadi kunci keberhasilan inisiatif ini.
“Kami percaya, dengan telah dilembagakannya PATBM menjadi LKD, sistem perlindungan anak dan kelompok ekonomi seperti VSLA akan terus berjalan meskipun program ini telah berakhir,” ujarnya.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Bone, Hasnawati Ramli, S.Sos., M.Si, mewakili Bupati Bone, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Save the Children dan Cargill atas kontribusi nyata yang diberikan.
“Program EMPOWER telah memberikan dampak yang luar biasa, tidak hanya memperkuat pilar perlindungan anak melalui PATBM, tetapi juga meningkatkan kemandirian ekonomi keluarga petani kakao. Kolaborasi ini akan menjadi pijakan bagi pemerintah daerah untuk memastikan keberlanjutan program serta memperluas manfaatnya ke desa-desa lain di Bone,” ujarnya.
Lebih lanjut, Hasnawati menambahkan bahwa keberhasilan program ini sejalan dengan visi pembangunan daerah Kabupaten Bone, khususnya dalam hal peningkatan kesejahteraan keluarga, perlindungan anak, dan pemberdayaan ekonomi perempuan.
Dengan berakhirnya program EMPOWER, seluruh aset, model, dan sistem tata kelola program diserahkan secara resmi kepada pemerintah daerah dan komunitas. Langkah ini diharapkan dapat memastikan keberlanjutan inisiatif di tingkat lokal, memperkuat kemandirian masyarakat dalam melindungi anak, meningkatkan kapasitas petani muda, serta menciptakan rantai pasok kakao yang berkelanjutan dan ramah anak.
Save the Children menegaskan komitmennya untuk terus memperjuangkan hak-hak anak di Indonesia. “Kami akan terus bekerja bersama pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta agar setiap anak memiliki kesempatan untuk tumbuh sehat, belajar, dan terlindungi,” tegas Ikhwana.
Dengan pengalaman lebih dari 100 tahun, Save the Children menjadi organisasi independen terkemuka di dunia dalam pemenuhan hak anak, bekerja di berbagai belahan dunia untuk menciptakan perubahan yang berkelanjutan bagi jutaan anak.
Jurnalis: Rosdiana Sulja






