Profil Sufriadi Arif, Putra Wajo Jabat Unsur Pimpinan DPRD Sulsel

Foto: Sufriadi Arif.

ENEWS WAJO •• Sufriadi Arif merupakan politisi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang berhasil mengukir sejarah baru, dimana dirinya merupakan putra pertama Kabupaten Wajo yang berhasil menduduki jabatan unsur pimpinan di DPRD Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel).

Ketua Partai PPP Wajo tersebut dilantik sebagai Wakil Ketua IV DPRD Sulsel, setelah berhasil meraih satu kursi pada perhelatan Pilcaleg 2024 lalu, yang meliputi daerah pemilihan Wajo – Soppeng.



Politisi muda yang lahir pada tanggal 25 Juni 1984 merupakan sosok yang akrab dengan dunia pesantren.

Dirinya memulai pendidikan TK dan SD (Ibtidaiyah) kemudian SMP (Tsnawiyah) di Pondok Pesantren As’adiyah, Sengkang-Wajo.

Kemudian  jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) ia selesaikan di sebuah sekolah unggulan Kementrian Agama Pusat, MANPK Makassar.

Di perguruan tinggi, dirinya menyelesaikan Pendidikan Strata Satu (S1) di Universitas Islam Negeri (UIN) terbaik Indonesia yakni, UIN Syarif Hidayatullah, Ciputat-Jakarta.

Selanjutnya, menyelesaikan pendidikan S2 di Kampus UMI ( Universitas Muslim Indonesia).

Sufriadi Arif, mengawali karir organisasinya di berbagai organisasi intra maupun ekstra kampus diantaranya, menjadi Presiden BEM UIN Ciputat, pengurus Pusat (PB) PMII, Ketua Ikapermawa Jakarta, Pengurus Ansor Sulsel, Ketua Gerakan Muda Hanura (Gema Hanura), dan Pengurus IKAMI Sulsel.

Pria yang memiliki 5 putri ini, separuh usianya banyak dihabiskan di Ibu Kota Jakarta dengan melakukan gerakan dan konsolidasi dengan para aktivis dan lintas organisasi untuk melakukan gerakan ekstra parlemen, mengkritisi kebijakan kampus, kebijakan pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada masyarakat.

Karena bertahun-tahun pola pikirnya tidak jauh-jauh dari dunia gerakan ekstra parlemen sehingga membentuk karakter keras dan sikap konsistensi terhadap suatu persoalan yang dianggapnya tidak benar dan sampai saat ini sikap tersebut masih tetap terjaga tanpa harus terkontaminasi dan menggadaikan idealismenya.

Setelah bertahun-tahun terlibat aktif di dunia gerakan kampus dan ekstra parlemen, maka pada tahun 2014 ia mencoba memasuki dunia politik dengan mencalonkan diri sebagai calon legislatif dari partai Hanura untuk dapil VIII Wajo-Soppeng, dan Dewi Fortuna belum berpihak pada saat itu.

Begitu juga pada pemilu selanjutnya, 2019 melalui PPP kembali mencalonkan diri dengan dapil yang sama, lagi-lagi Dewi Fortuna belum berpihak kepadanya.

Meskipun dua pemilu tersebut suara yang didapatkannya sangat signifikan, tapi tidak cukup memgantarkannya untuk menjadi perwakilan konstituen yang diwakilinya.

Dari dua pemilu tersebut tidak membuat ia patah arang, karena baginya pengabdian keummatan memang harus menapaki jalan terjal.

“Tidak ada perjuangan untuk kemaslahatan umat yang dengan mudah bisa diraih. Berjuang dalam dunia politik sama halnya berjuang untuk memasrahkan diri, mengorbankan diri untuk sebuah pengabdian keummatan yang paripurna,” ucap Sufriadi ke Enews Indonesia, Kamis (31/10/2024).

Semangat pengabdian tanpa batas tersebut diwariskan oleh orang tuanya.

Putra ke-7 dari 8 bersaudara ini, merupakan anak dari, almarhum AG. KH Arif Hasan dengan pasangan Hj. Mursyidah, adalah seorang tokoh agama-kharismatik yang mumpuni keilmuannya, dan dikenal sangat sederhana dan bersahaja.

AG Arif selain pernah menjadi pengasuh selama berpuluh tahun di Pondok Pesantren As’adiyah juga sempat menjabat sebagai Kepala Kantor Kementerian Agama dan Legislator Kabupaten Wajo.

Semangat untuk berjuang di dunia parlemen sejak kecil memang sudah dicita-citakannya. Ini tidak terlepas dari geneologi yang mengalir dalam tubuhnya.

Sosok yang sehari-hari akrab dengan panggilan Uppi ini, melalui orang tuanya, sejak kecil pada usia yang sangat belia, ia sudah sering diajak oleh orang tuanya keliling ke kampung-kampung, dari satu desa ke desa lainnya, dari satu kecamatan ke kecamatan lainnya, dari satu kabupaten ke kabupaten lainnya dalam rangka memenuhi undangan dan kegiatan keagamaan dan non keagamaan masyarakat.

“Karena saat itu, memang undangan untuk orang tua saya sangat padat sekali, saking padatnya, banyak masyarakat datang ke rumah untuk meminta waktu beliau (ayahanda) agar bisa menghadiri undangan masyarakat, meski masyarakat harus menyesuaikan waktunya orang tua saya yang penting orang tua saya bisa menghadiri kegiatan mereka,” jelasnya.

“Karena terlalu seringnya ikut kegiatan orang tua saya, saya bisa menyaksikan langsung setiap beliau ceramah dengan kemampuan ceramah yang sangat menyentuh dan menarik. Isi dan materi ceramahnya yang ‘Hidup’ dengan pola ceramah yang mampu menyesuaikan kondisi sosio-kultur masyarakat,” sambungnya.

Diungkapkannya, salah satu yang ia perhatikan dalam setiap ceramah orang tuanya yaitu kemampuan menjelaskan dengan referensi keislaman klasik-modern terkait hubungan atau relasi agama-negara, antara politik dan pengabdian keummatan.

“Misalnya, menjadi catatan tersendiri, dan inilah yang kemudian menjadi pelecut saya untuk mengikuti jejaknya, yaitu berkeinginan menjadi bagian dari negara agar bisa memberikan kontribusi dan maslahat untuk umnat,” pungkasnya.

Jurnalis: Andi M Ikbal





Editor: Abdul Muhaimin

Tinggalkan Balasan