Ormas GPK dan TNI Nyaris Bentrok di Magelang, Publik Singgung Polisi

Foto: Konvoi Ormas GPK di Kabupaten Magelang, sehari menjelang Kunker Presiden Prabowo dan Presiden Prancis, Emmanuel Macron yang disoroti publik karena dibiri izin oleh kepolisian berkonvoi. (Dok. enews)

ENEWS MAGELANG •• Belum hilang diingatan masyarakat Kabupaten Magelang mengenai ketegangan antara Ormas Gerakan Pemuda Kabah (GPK) dengan anggota TNI yang terjadi di Jalan Raya Magelang-Purworejo, pertigaan tugu Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah beberapa waktu lalu.

Bahkan peristiwa ini masih hangat menjadi perbincangan banyak publik dari perkantoran, pasar hingga merambah ke warung-warung kopi (Angkringan).



Perbincangan yang beredar, peristiwa itu mestinya tidak harus terjadi jika Ormas itu disiplin saat berada di ruang publik serta menghargai petugas keamanan yang sedang menjalankan tugas negara menjelang kunjungan kerja Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Prancis Emmanuel Macron di Magelang yang dijadwalkan Kamis, 29 Mei 2025 lalu.

Di balik peristiwa itu, dari perbincangan hangat di tengah masyarakat, justru yang disinggung adalah pihak pemberi izin.

Menurut banyak masyarakat Magelang ini, mestinya acara konvoi yang dilakukan GPK pada Rabu, 28 Mei 2025 itu instansi terkait tidak memberikan izin melakukan konvoi.

Pasalnya, hari itu semua instansi pemerintah daerah sampai pusat bahkan dari sekretariat kepresidenan sedang sibuk di Magelang melakukan persiapan penyambutan kunjungan dua kepala negara.

“Mestinya pihak yang berhak menerbitkan izin keramaian tidak memberi izin pihak GPK saat itu. Karena kita tahu kan, mau ada kunjungan RI-1 dan Presiden Emmanuel Macron di Magelang. Apalagi hari itu banyak pejabat di Magelang melakukan persiapan,” kata Mohamad Fikri, tokoh masyarakat asal Rambeanak, Mungkid, Kabupaten Magelang, Senin, (2/6/2025).

Fikri yang mengaku alumni salah salah satu perguruan tinggi di Semarang, menyayangkan pihak yang memberi izin konvoi Ormas tersebut.

Fikri pun ikut mengecam aksi arogansi oknum Ormas GPK yang tidak menghargai keberadaan TNI saat itu.

Selain mengecam, Fikri mendesak agar oknum GPK ditangkap dan diseret ke meja hijau atas aksinya melawan dan merendahkan harkat dan martabat TNI.

Untuk diketahui bahwa pada Rabu, 28 Mei 2025, mobil dinas TNI ditendang anggota Ormas GPK hingga nyaris memicu bentrok di Salaman. Video insiden ini pun langsung viral di media sosial dan menuai kecaman warganet.

Peristiwa ini terjadi Rabu (28/5/2025) dan viral setelah diunggah akun Instagram @infokomando.

Dalam video, tampak dua anggota Yonif 412 Raider Kostrad yang mengendarai mobil dinas OZ dihentikan konvoi ormas GPK.

Sebelum kejadian, mobil TNI ini terjebak di tengah konvoi GPK dan meminta jalan lantaran sedang terburu-buru karena menunaikan tugas.

Namun, permintaan tersebut diabaikan. Justru salah satu oknum ormas GPK menendang pintu kanan mobil TNI tersebut dengan kasar.

“Karena lama tidak diberi jalan, salah satu anggota TNI minta dibukakan jalan karena sedang terburu-buru. Akan tetapi oleh ormas GPK permintaan tersebut tidak diindahkan. Saat kendaraan hendak diparkir, salah satu anggota GPK mendatangi kendaraan OZ lalu menendang pintu sebelah kanan,” tulis @infokomando dikutip Senin (2/6/2025).

Ditegaskan Fikri, insiden mobil TNI ditendang anggota GPK ini tidak boleh didiamkan, harus dilakukan tindakan kepada pelaku.

Pasalnya, aksi menendang mobil dinas TNI yang saat itu sedang bertugas jelang kunjungan dua kepala negara di Magelang merupakan bentuk penghinaan dan pelecahan kepada institusi TNI.

“Ini juga pengingat bagi kepolisian yakni Polresta Magelang agar tidak semudah itu menerbitkan izin keramaian kepada Ormas jika saat itu sedang ada kegiatan menyambut kedatangan tamu VVIP,” tandasnya.

(Jurnalis: Muhammad)





Editor: Abdul

Tinggalkan Balasan