ENEWSINDONESIA.COM, MAKASSAR – Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Daerah Makassar menggelar diskusi publik terkait pemilu serentak Tahun 2024 bersama dengan OKP Cipayung Plus Kota Makassar, di Warkop Cappo, Jalan Sultan Alauddin, Makassar, Minggu (18/09/2022).
Kegiatan ini mengusung tema “Peran Organisasi Ekstra Kampus Dalam mengawal Tahapan Pilpres dan Pemilu Tahun 2024” dengan menghadirkan narasumber: Agung Wahyudi (KAMMI Makassar), Muhammad Arsyi Jailolo (HMI Makassar), Yustina Parera (PMKRI Makassar), Ahmad Wade Muassir (SEMMI Makassar), Janoval Leatemia (GMKI Makassar), dan Ahmad Fiqhi (LMND Makassar).
Agung Wahyudi, Ketua KAMMI Makassar, mengatakan peran mahasiswa dalam kontestasi politik sangat dibutuhkan, sehingga kata dia anak-anak muda harus mengambil peran aktif.
“Anak muda cukup mendominasi dalam daftar pemilih kita, persentasenya kurang lebih 30-40 persen. Olehnya itu, kita tidak boleh apatis, sedikit banyaknya kontribusi kita akan menentukan masa depan bangsa,” tuturnya.
Ahmad Fiqhi, Ketua LMND Makassar, mewanti wanti kepada mahasiswa maupun kawula muda untuk menolak politik uang dalam penyelenggaraan Pemilu, baik legislatif maupun eksekutif.
“Money politik ini menjadi momok dalam pesta demokrasi kita di Indonesia. Nah, ini kita harapkan anak-anak muda bisa menjadi duta politik uang, dalam artian aktif memberi edukasi tentang bahayanya politik uang itu,” jelasnya.
Sementara, Janoval Leatemia, Ketua GMKI Makassar, menyoroti soal penyelenggara pemilu, yang terkadang mendapatkan intimidasi dari berbagai pihak agar dalam kontestasi tersebut dia bisa menjadi pemenang.
“Praktik kecurangan ini harus dapat perhatian serius, maka leran aktif mahasiswa ini juga dibutuhkan disitu, mengawal penyelenggara Pemilu agar mereka bisa menjadi wasit yang betul-betul adil. Serta suara masyarakat bisa tersalurkan dengan baik,” terangnya.
Yustina Parera, Ketua PMKRI Makassar, meminta agar mahasiswa ataupun anak milenial tidak golput dalam Pemilu 2024 mendatang.
“Persoalan kita dalam Pemilu selalu berulang, salah satunya adalah masalah data pemilih yang tidak pernah selesai-selesai. Ini perlu menjadi perhatian kita semua, terutama anak-anak muda. Kontribusi aktif anak muda dibutuhkan, caranya dengan berpartisipasi aktif melakukan pengawasan, kedua melakukan pendampingan kepada pemilih pemula karena ini rentan, lalu ketiga adalah kita jangan jadi kaum yang golput alias tidak memilih,” jelasnya.
Muhammad Arsyi Jailolo, Ketua HMI Makassar, menyebut organisasi ekstra kampus diharapkan akan mampu melahirkan anak muda yang bisa berpartisipasi dalam kontestasi Pemilu di tahun 2024.
“Pendidikan politik harus yang utama, nah tempatnya adalah bisa di organisasi ekstra kampus, misalnya yang tergabung di Cipayung, ada HMI, PMII, KAMMI dan yang lain. Ini berfungsi sebagai awal melahirkan mahasiswa atau anak muda yang melek politik tapi tidak pragmatis. Karena, ada juga kita dapatkan anak-anak muda yang pragmatis,” pungkasnya.






