Mengenal Lebih Dekat Sosok Paggiri di Puncak HJB ke- 693

Foto: Indra Parawansyah saat melakukan ritual Maggiri di acara puncak Hari Jadi Bone ke- 693. (Dok. Enews)

ENEWSINDONESIA.COM, BONE – Semarak puncak peringatan Hari Jadi Bone (HJB) ke- 693 ditutup dengan pelaksanaan Mattompang Arajang yang kali ini digelar secara terbuka yang berlangsung semarak di mana menampilkan Tari Kolosal Bola Soba hingga Mattompang Arajang bahkan Tari Kolosal Suku Dayak yang dihadirkan langsung oleh Walikota Bontang.

Juga ditampilkan tradisi Maggiri yang ditampilkan oleh laki-laki dan perempuan. Tarian Maggiri, merupakan tarian yang mempergunakan sebilah badik pusaka yang mengandung unsur mistis di dalamnya.

Seiring waktu, sosok laki-laki yang melakukan tradisi Maggiri pada peringatan puncak HJB ke- 693 menjadi viral. Banyak netizen bertanya siapa sosok tersebut.

Dia adalah Indra Parawansyah, sosok penggiat budaya ini merupakan honorer di Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bone.

“Saya melakukan hal tersebut seperti Maggiri karena itukan salah satu budaya yang sudah jarang ditemui dan banyak anak muda sekarang tidak terlalu peduli akan budaya,” tutur pria kelahiran Passempe 12 Juli 2000 ini.

Sebagai salah satu penggiat budaya, Indra menuturkan jika bukan kita sebagai anak muda jaman sekarang yang peduli akan budaya maka siapa lagi?

“Bukan mau terlihat hebat karena melakukan hal tersebut. Tapi sebagai ajang sosialisasi bahwa kita sebagai orang Bugis terutama Bugis Bone mempunyai banyak budaya-budaya yang harus dilestarikan salah satunya Maggiri,” jelas alumni MAN 1 Bone lulusan tahun 2018 ini.

Indra menambahkan, pentingnya budaya akan membuat masyarakat lebih kuat. Dengan keberagaman budaya, akan mengajarkan kita arti toleransi dan saling menghargai.

“Budaya merupakan bagian yang tak bisa dipisahkan dalam kehidupan manusia di dunia. Dari budaya inilah lahir peradaban besar manusia,” kata anggota organisasi Rumah Kreasi Budaya Bangsa (RKBB) ini.

“Itulah mengapa, perlu penyikapan bijak ketika muncul permasalahan-permasalahan, aspek budaya bisa menjadi perantara perdamaian. Bukan sebaliknya, menjadi sumber perpecahan,” tambah anggota organisasi Pecinta Alam Bonepal ini. (Mimienk Lee)





Tinggalkan Balasan