Majene  

Dari Pengungsian Menuju Harapan: Perjuangan Mita Menjemput Persalinan di Ulumanda

ENEWS, MAJENE ••》Pagi itu, jalan setapak di Dusun Rura, Desa Sambabo, Kecamatan Ulumanda, masih basah dan licin. Tanahnya menanjak, bebatuan tersebar, dan hutan di kiri-kanan seolah membatasi langkah.

Namun bagi Mita (32), medan itu bukan lagi soal jarak atau sulitnya perjalanan. Ia hanya ingin satu hal yakni melahirkan dengan lebih tenang.



Di tengah padatnya lokasi pengungsian pascagempa, Mita merasakan kondisi yang tidak lagi memungkinkan untuk proses persalinan.

Suara riuh, keterbatasan ruang, dan minimnya privasi membuatnya memutuskan pulang ke rumah, meski harus menempuh perjalanan sekitar empat kilometer.

Permintaan itu tidak diabaikan. Warga bersama aparat bergerak cepat. Dengan peralatan seadanya, sebatang bambu sepanjang empat meter dan dua helai sarung, mereka merakit tandu sederhana. Mita dibaringkan dengan hati-hati, lalu perjalanan dimulai.

Langkah demi langkah dilalui. Beberapa kali mereka harus berhenti, mengatur napas, menjaga keseimbangan di jalur yang licin.

Tanjakan demi tanjakan dilewati dengan kehati-hatian. Di depan rombongan, Supriadi, anggota Kodim 1402 Polman, memimpin evakuasi, memastikan jalur aman dilalui.

“Beliau meminta dibawa ke rumah karena di pengungsian tidak kondusif untuk persalinan,” ujar Supriadi di sela perjalanan.

Tak ada kendaraan, tak ada tandu medis. Hanya gotong royong dan tekad. Di tengah keterbatasan, warga menunjukkan bahwa solidaritas masih menjadi kekuatan utama.

Perjalanan itu bukan sekadar memindahkan seseorang dari satu tempat ke tempat lain.

Ia adalah potret tentang keteguhan, kepedulian, dan harapan yang tetap hidup di tengah situasi sulit.

Di ujung perjalanan, sebuah rumah sederhana menanti, tempat Mita berharap bisa melahirkan dengan lebih aman.

Di sanalah, di antara keterbatasan dan perjuangan, kehidupan baru akan segera dimulai. (REDAKSI)





Tinggalkan Balasan