ENEWS BONE •• Viral seorang dukun tradisional di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan (Sulsel) dilaporkan pasiennya lantaran diduga melakukan praktik penipuan berkedok ruqyah.
Sejumlah pasien keberatan. Alih-alih sembuh, sakit para korban malah bertambah parah akibat implikasi obat yang mahal dari sang dukun yang dinilai berbahaya oleh dokter.
Dalam menjalankan praktik pengobatannya, dukun ini mengaku peruqyah namun jauh dari pengobatan ala peruqyah. Tak ada bacaan ruqyah, malah ada praktik memasukkan jin ke dalam botol yang tak ada dalam ajaran agama Islam.
Sekretaris Dinas Kesehatan Bone drg Yusuf Tolo menjelaskan, praktik semacam ini utamanya yang mengandalkan bantuan jin dan ilmu mistis tak masuk dalam kategori pengobatan alternatif.
Menurutnya, pengobatan alternatif tetap terukur secara ilmiah dan tentunya telah melewati penelitian-penelitian yang telah membuktikan khasiat dan manfaatnya
“Beberapa pengobatan alternatif yang dimaksud yang diakui seperti terapi akupuntur, terapi urut, terapi bekam, hingga terapi Ruqyah,” terang Yusuf, Sabtu (21/12/2024).
Sementara terapi dengan metode mengandalkan baca-baca hingga klaim menggunakan tenaga mistis ini tak bisa dipertanggungjawabkan.
Dikatakannya, praktek semacam ini biasanya akan hadir karena ada yang mencari, sehingga ini juga tidak bisa lepas dari pola pikir masyarakat itu sendiri.
Dia mengatakan alasan mengapa masih adanya yang terjerumus misalnya praktek dukun cabul adalah karena hal-hal seperti ini dianggap hal yang lumrah.
“Justru kita berada di era kemajuan seperti ini masih memercayai hal-hal yang mestinya tidak perlu lagi,” kata Yusuf.
Dia mengaku heran dengan praktik perdukunan yang masih eksis sampai saat ini di tengah majunya ilmu pengetahuan dan teknologi medis.
“Saya menganggap dukun itu dulu ada karena itu barang antik tapi kalau dia lahir tahun 80-an di tengah ilmu pengetahuan seperti ini dari mana ilmunya,” tanya Yusuf.
Yusuf menilai para dukun ini sama sekali tak memiliki standar dan sertifikasi profesi, berbeda dengan tenaga medis yang tentunya bisa dimonitoring dievaluasi dan dipertanggungjawabkan.
Perkara ini diakui Yusuf juga menjadi kekhawatiran di bidang kesehatan. Alasannya praktik seperti ini cenderung banyak menghambat pelayanan medis yang semestinya perlu secepatnya diterima oleh masyarakat yang bisa berakibat fatal.
Dia mencontohkan kasus rabies di Bone yang belakangan terungkap banyak dihambat oleh praktek dukun. Masyarakat yang tergigit lebih ingin membawa ke dukun alih-alih ke medis padahal warga yang tergigit ini butuh secepatnya penanganan vaksin
“Artinya, ada upaya kita untuk memberikan pelayanan cepat dan terbaik tetapi ada juga pihak yang menghambat saya tidak tahu apakah karena dia mau menguasai pelayanannya ada pola pikir dia ingin unggul bahwa hanya dia yang bisa berikan kesembuhan,” jelasnya.
Adapula praktik dukun melahirkan, yang memiliki resiko hygenitas, dan tingkat mortalitas yang lebih tinggi. Bahkan ada pola pikir di kalangan masyarakat untuk pantang ke puskesmas saat sakit, yang tentunya kata Yusuf ini merupakan anggapan sesat.
“Jadi ini sebenarnya ikut menghambat kita, semestinya dapat pelayanan cepat tapi karena pola pikir seperti ini, pasien terlambat ditangani,” tandasnya. (Lee)






