Karakteristik Pemilih Milenium

Foto: DR. Ignas Bataona SH. MTH.

Penulis: DR. Ignas Bataona SH. MTH

(Pengamat Sosial Politik).



Pemilih Melinium berbeda dengan pemilih “Kolonial“, usia tua yang relatif tradisional dan stagnan, sedangkan pemilih milenial memiliki karakteristik beragam.

Hal ini terdeskripsikan dari penelitian Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (Fisip UI) di empat kota besar, yakni Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Semarang pada pemilu 2019.

Hasilnya, terdapat empat karakteristik pemilih Melinium, yakni doubtfulness, open minded, apatethic dan modest.

Doubtfulness ialah generasi melenial yang masih belum menentukan pilihan.

Open minded adalah pemilih yang memiliki partisipasi dan pengetahuan yang tinggi terkait dengan politik atau melek politik.

Apatethic adalah pemilih yang tidak peduli dengan dunia politik.

Adapun modest adalah karakter pemilih yang pilihnya karet berdasarkan ikut-ikutan dan tergantung pada situasi dan kondisi yang terjadi.

Sementara LIPI menemukan sejumlah karakter pemilih muda yang bisa dikatakan pemilih Melinial, yakni Voluntarisme.

Ciri khasnya sukarela dan berkarakter dan berkarakter kolegialitas. Selain kedua karakter di atas mereka memiliki sikap apolitis dan apatis.

Temuan riset Center for Strategi and Internasional Studies (CSIS) tentang sikap kaum milenial menunjukkan bahwa gejala apolitis itu terjadi pada mereka karena perbedaan faktor sosial ekonomi dan sosial politik.

Karateristik lain dari pemilih milenial adalah ketergantungan dan kecanduannya sangat tinggi pada gadget.

Mereka mendapat informasi tentang Parpol atau rekam jejak calon legislatif dari media sosial.

Tidak jarang konten atau narasinya baru setengah kebenaran bahkan ada yang hoaks.

Demikian besarnya populasi pemilih milenial, maka kalangan ini memegang peran penting dan menentukan keberhasilan dan kesuksesan pemilu atau Pilkada serentak 2024 baik secara kuantitas maupun secara kualitas.

Ringkas kata proses dan terutama hasil pemilu dan bahkan nasib bangsa di masa depan sangat ditentukan oleh seberapa jauh kualitas dari pemilih melenial.

Itulah sebabnya, pemilih melenial harus menjadi pemilih cerdas, rasional, kritis dan kalkullatif. Tidak menjadi pemilih irrasional, pragmatis, skeptis, apatis apa lagi pemilih transaksional (ada uang ada suara). Tidak juga memilih Parpol atau kandidat seperti “Kucing dalam dalam karung”.

Selain itu pemilih milenial diharapkan menjadi subyek dan bukan obyek pemilu.

Untuk mewujudkan keinginan tersebut tidak mudah dan juga tidak bisa sepenuhnya diserahkan kepada pemilih milenial. Sebagiannya mempunyai keterbatasan pada kemampuan untuk dapat memilih calon pemimpin secara selektif.

Saat pemilu lebih banyak diperoleh dari internet, khususnya media sosial padahal di media sosial belum tentu sepenuhnya benar, valid dan otentik.

Oleh karena itu diperlukan pendidikan pemilih dan literasi demokrasi yang harus dilakukan secara komprehensif, holistik dan integral.

Pekerjaan berat ini bukan hanya menjadi tanggung jawab KPU dan Bawaslu, melainkan dan terutama adalah Partai Politik karena notabene pemilih adalah subyek pemilu.

Maka Partai politik harusnya berada di garda terdepan dalam melakukan pendidikan politik berbasis digital, dan dilakukan secara substansial dan aktraktif.





Tinggalkan Balasan