ENEWS BONE •• Seorang anak perempuan berusia 15 tahun yang saat ini duduk dibangku sekolah kelas tiga SMP di Kecamatan Cenrana, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan diduga menjadi korban pemerkosaan oleh teman sekolahnya.
Dari informasi yang dihimpun, saat ini anak tersebut dikabarkan meninggal dunia diduga akibat pemerkosaan tersebut. Keluarga minta pihak kepolisian serius tangani kasus.
Diketahui tempat kejadian peristiwa di Desa Cenrana, Kecamatan Cenrana. Namun korban sendiri beralamat di Desa Ajallasse, Kecamatan Cenrana.
Warga Desa Ajallase Kecamatan Cenrana, Buce menuturkan keluhan awal korban yang disampaikan sakit kepala.
“Setelah itu, dibawah ke Puskesmas makanya diobati itu. Pas tiga hari di Puskesmas pulang tidak ada perubahan,” ungkapnya kepada watawan, Sabtu (18/2/2023).
Ia mengatakan anak ini takut mengaku dan keluarganya curiga ada kelainan akhirnya diperiksa oleh keluarga.
“Dilihat kelaminnya ada kelainan. Tidak bisa duduk dan BAB, dan dia depresi berat, jadi ini diduga pelakunya bukan hanya satu orang tapi ramai-ramai,” katanya.
Saat dilakukan pemeriksaan oleh keluarga korban. Korban mengatakan pelakunya berjumlah kadang empat orang dan lima orang pelakunya.
“Akhinya pada hari Sabtu lalu saya bawa ke Polres untuk melapor, sampai di sana kita diminta bawa visum ke rumah sakit RS M Yasin, dan orang tuanya di BAP,” tuturnya.
Setelah dilakukan visum ia menjemput orang tua korban, namun saat ditemui polisi mengatakan kasus ini tidak bisa ditanggapi karena masih mengambang hasil BAP nya.
“Karena memang orangtuanya ini korban tidak terlalu pintar bicara sama polisi, karena baru juga menghadapi kasus begini. Hasil visumnya itu anus sama alat vitalnya hancur, jadi ini dicurigai dilakukan ramai-ramai,” katanya.
Kata dia, akhirnya korban di RS M Yasin agar kondisinya membaik dan depresinya tidak terlalu berat lagi sehingga bisa dimintai keterangan. Karena kondisinya saat itu ketika ditanya jawabannya ngawur.
“Namun setelah di rawat selama lima hari korban meninggal, tepatnya Kamis Malam, dan dimakamkan setalah sholat Jumat kemarin,” katanya.
Kata dia, pihak keluarga korban berharap pihak kepolisian bisa bertindak tegas mengungkap kasus ini. Tetapi sampai sekarang belum ada aksi dari kepolisian dan pihak keluarga sudah ada bukti dalam bentuk rekaman suara berasal dari grup whatsapp milik korban.
“Artinya kalau untuk pelaporannya kami sudah melapor, tetapi polisi seperti tidak ada tanggapan sama sekali sampai sekarang. Saya akan temani lagi keluarga korban melapor Senin,” jelasnya.
Kata dia, saat ini pihaknya memegang bukti yang berasal dari grup Whatsapp korban yang berisikan siswa di sekolah tersebut, ada yang kelepasan bilang dia pelakunya.
“Makanya kita minta polisi menindaklanjuti itu berdasarkan bukti-bukti tersebut, apa salahnya diambil keterangannya dulu sempat dari situ bisa dilakukan pengembangan,” tuturnya.
Terpisah, Kapolsek Cenrana AKP Andi Muh.Siregar menyampaikan pihak Polsek tidak menerima laporannya.
“Tabe bukan kami di Polsek yang menerima laporanny tpi anggota kami bersama keluarga korban ke Polres untuk membuat laporannya karena korban di bawah umur dan unit PPA polres yg menangani kasus anak,” ujar Kapolsek melalui pesan instan, Sabtu (18/2/2023).
Sementara, Kasi Humas Polres Bone Ipda Rayendra Muchtar menuturkan bahwa pihaknya belum menerima laporan terkait hal tersebut.
“Belum ada laporan polisi yang diterima SPKT terkait itu,” katanya juga melalui pesan instan. (Lee)






