ENEWS, BONE ••》TikTok semestinya menjadi tempat untuk berjoget, berbagi cerita, atau sekadar mencari hiburan. Namun, di Desa Watu, Kecamatan Barebbo, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, sebuah siaran langsung justru berujung pada perkara yang jauh dari kata hiburan.
Kamis malam menuju Jumat dini hari (11/9/2026), sekitar pukul 01.30 WITA, suasana di Desa Watu mendadak berubah mencekam.
Puluhan remaja yang diduga datang berkelompok menggunakan sepeda motor disebut mendatangi wilayah tersebut. Bukan sekadar datang untuk nongkrong, sejumlah di antaranya diduga membawa senjata tajam hingga botol yang diduga dipersiapkan sebagai bom molotov.
Ironisnya, persoalan tersebut diduga bermula dari sesuatu yang sangat sederhana: live TikTok dan saling ejek.
Informasi yang dihimpun di lokasi menyebutkan, salah satu kelompok remaja tengah melakukan siaran langsung di media sosial. Dalam siaran itu, kelompok lain kemudian muncul.
Entah siapa yang lebih dulu memulai, yang jelas suasana live yang semestinya menjadi tontonan berubah menjadi ajang saling ejek.
Dari layar ponsel, tantangan kemudian dilontarkan.
Kalimat-kalimat yang mungkin awalnya dianggap sekadar gertakan di dunia maya ternyata tidak berhenti di kolom komentar atau siaran langsung.
Tantangan itu disebut berlanjut ke dunia nyata.
Kelompok remaja lainnya kemudian diduga mendatangi Desa Watu.
Mulutmu harimaumu.
Pepatah lama itu seolah menemukan bentuk barunya di era media sosial. Dulu orang mungkin harus berhadapan langsung untuk saling menantang. Kini, cukup dengan ponsel, koneksi internet dan keberanian mengetik atau berbicara di depan kamera.
Masalahnya, ketika tantangan di layar dibawa ke jalanan, konsekuensinya bukan lagi sekadar komentar dan jumlah penonton.
Seorang warga yang berada di lokasi mengaku melihat puluhan sepeda motor berdatangan.
Beberapa remaja disebut berboncengan hingga tiga orang. Sebagian lainnya diduga membawa senjata tajam.
“Ramai sekali tadi, Pak. Ada puluhan motor yang berboncengan tiga, bawa sajam dan molotov. Bahkan ada molotov yang sempat dilemparkan oleh mereka, untungnya tidak ada yang kena,” ungkap warga tersebut.
Situasi yang mulai memanas itu akhirnya membuat warga melapor kepada polisi.
Informasi juga diterima melalui layanan Call Center 110.
Personel gabungan Polres Bone langsung bergerak menuju lokasi.
URC Resmob, Unit Intelkam, Pamapta dan personel Polsek Barebbo kemudian melakukan pengamanan serta penyisiran di sekitar lokasi.
Hasilnya, enam remaja yang diduga terlibat dalam aksi penyerangan berhasil diamankan.
Polisi juga menyita sejumlah barang bukti yang diduga berkaitan dengan aksi tersebut.
Di antaranya dua anak busur, dua senjata tajam jenis badik, serta satu botol bekas yang diduga digunakan sebagai bom molotov.
Dua remaja bahkan disebut terjatuh dan ditinggalkan rekan-rekannya di lokasi. Sebelumnya, petugas telah lebih dulu mengamankan empat orang lainnya.
Kasat Reskrim Polres Bone AKP Ananda Gunawan membenarkan adanya sejumlah remaja yang diamankan.
“Iya betul, ada beberapa orang yang diamankan beserta barang bukti, dan saat ini masih dalam pemeriksaan lebih lanjut,” ujar AKP Ananda.
Kini polisi masih memeriksa keenam remaja tersebut untuk mengetahui peran masing-masing sekaligus mendalami rangkaian kejadian dan kemungkinan adanya pihak lain yang terlibat.
Kasus ini menyisakan satu pelajaran sederhana di tengah ramainya dunia media sosial.
Live boleh, bercanda boleh, saling komentar boleh. Tetapi ketika mulut sudah menjadi pemantik, persoalannya bisa berubah menjadi panjang.
Sebab, di era TikTok, kadang yang awalnya hanya beberapa detik di depan kamera bisa berujung berjam-jam di hadapan penyidik.
Dan benar kata orang-orang tua dulu:
Mulutmu harimaumu.
Bedanya sekarang, harimaunya kadang ikut live. (Redaksi)






