Kasus Asusila di Pesantren Meningkat, Ini Tips dari Amure

Anggota Komisi X DPR RI, Andi Muawiyah Ramly. (Dok. ENews)
Anggota Komisi X DPR RI, Andi Muawiyah Ramly. (Dok. ENews)

ENEWS, PENDIDIKAN ••》Maraknya kasus dugaan kekerasan seksual yang melibatkan oknum pimpinan pondok pesantren di sejumlah daerah menjadi perhatian publik.

Menyikapi hal tersebut, Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PKB, Andi Muawiyah Ramly, membagikan sejumlah tips bagi orang tua dalam memilih pondok pesantren untuk anak-anak mereka.

banner 728x250

Pria yang akrab disapa Amure itu menekankan pentingnya menelusuri rekam jejak dan latar belakang pimpinan pondok pesantren sebelum memutuskan menitipkan anak untuk menimba ilmu.

“Pimpinannya harus diketahui dulu, pernah tidak jadi santri, nyantrinya di mana, gurunya siapa. Itu penting untuk diketahui,” kata Amure saat berbincang dengan ENews Indonesia di Kabupaten Bone, Selasa (16/6/2026).

Selain itu, ia mengingatkan orang tua untuk memastikan legalitas pondok pesantren yang akan dipilih.

Menurutnya, status terdaftar dan resmi menjadi salah satu indikator penting dalam menilai kredibilitas lembaga pendidikan tersebut.

“Pesantrennya harus dipastikan terdaftar atau tidak, resmi atau tidak. Beberapa kasus yang terjadi di Jawa, ada pesantren yang diketahui tidak terdaftar atau tidak resmi,” ujarnya.

Amure juga mengimbau masyarakat untuk aktif mencari informasi sebanyak mungkin terkait pondok pesantren yang menjadi tujuan pendidikan anak, termasuk melihat rekam jejak alumni dan kualitas pembinaannya.

“Harus banyak bertanya, lihat alumninya bagaimana, reputasinya seperti apa. Intinya orang tua harus benar-benar selektif dalam memilih pondok pesantren,” katanya.

Pernyataan tersebut disampaikan di tengah mencuatnya sejumlah kasus dugaan kekerasan seksual di lingkungan pondok pesantren yang saat ini sedang ditangani aparat penegak hukum di berbagai daerah di Pulau Jawa.

Kasus-kasus tersebut menjadi pengingat pentingnya pengawasan dan seleksi yang ketat dalam memilih lembaga pendidikan berbasis keagamaan. (REDAKSI)





Tinggalkan Balasan