ENEWS  

PMII Meradang, Satpol PP Bone Diduga Tampar Kadernya

Ilustrasi. (Sumber: Chat Gpt)

ENEWS, BONE •• Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Kabupaten Bone menggelar demonstrasi pada Jumat, 24 Oktober 2024, untuk menuntut transparansi dalam pengadaan alat mesin pertanian (alsintan) dan memberantas maraknya praktik mafia bahan bakar minyak (BBM).

Aksi saling dorong antara mahasiswa dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) tak terhindarkan. Ironisnya, salah seorang demonstran dengan inisial IB mengaku sempat ditampar oleh oknum anggota Satpol PP yang bertugas melakukan pengamanan.

banner 728x250

“Saya ditampar oleh seorang anggota Satpol PP. Ciri-ciri anggota tersebut adalah tinggi, gemuk, dengan mata menonjol,” ungkap IB kepada ENews Indonesia pada Sabtu, 25 Oktober 2025.

Menanggapi kejadian tersebut, Kepala Biro Advokasi dan HAM Pengurus Koordinator Cabang (PKC) PMII Sulawesi Selatan, Riswan Rusandy, S.Pd, mengecam keras tindakan represif tersebut.

Ia menilai bahwa pemukulan terhadap anggota PMII adalah bentuk nyata dari pembungkaman suara mahasiswa dan pelanggaran hak asasi manusia.

“Kami tidak akan tinggal diam atas tindak kekerasan terhadap anggota kami. Apabila Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Kasat Pol PP) Bone tidak segera menindak anggotanya yang bertindak arogan, kami akan kembali turun ke jalan dengan aksi yang lebih besar dan berkelanjutan!” tegas Riswan Rusandy pada Selasa, 23 Oktober 2025.

Menurut Riswan, tindakan kekerasan ini bukan hanya sekadar masalah fisik, tetapi juga merupakan bentuk pelecehan terhadap nilai-nilai demokrasi dan perjuangan mahasiswa. Ia menegaskan bahwa PMII tidak akan pernah tunduk pada intimidasi aparat.

“Pemukulan terhadap satu anggota adalah pemukulan terhadap semangat pergerakan secara keseluruhan. Kami akan memastikan bahwa pelaku dan atasannya tidak dapat berlindung di balik seragam kekuasaan,” ujarnya dengan penuh semangat.

Biro Advokasi dan HAM PKC PMII Sulawesi Selatan juga menyerukan agar Kasat Pol PP Bone segera mengambil tindakan tegas, bukan hanya memberikan klarifikasi tanpa tindakan nyata.

“Kami siap bergerak! Jika hukum tidak berpihak, maka jalanan akan menjadi saksi bahwa mahasiswa tidak pernah diam dalam menghadapi ketidakadilan,” tutup Riswan dengan lantang.

Riswan menegaskan bahwa kasus ini bukan sekadar tentang pemukulan terhadap satu orang, melainkan simbol dari perjuangan panjang melawan pembungkaman suara rakyat. Di tengah luka dan kemarahan, semangat perlawanan justru semakin berkobar, dan sejarah akan mencatat bahwa anggota pergerakan tidak pernah mundur di hadapan kekuasaan yang zalim.

(Try Ardiansyah)





Tinggalkan Balasan