ENEWSINDONESIA.COM, BONE ▪︎ Anggota DPR RI Komisi X, Andi Muawiyah Ramly menggelar sosialisasi empat pilar kebangsaan dengan tema, ” Milenial Bone Melawan Narkoba”. Kegiatan tersebut digelar di Ruang Teduh Coffe, Jalan Andi Moh Yusuf, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan (Sulsel), Rabu (6/3/2024).
Hadir sebagai narasumber dalam kegiatan terbut koorditor Forum Bersama (Forbes) Anti Narkoba Bone Dr. Andi Singkeru Rukka yang juga merupakan budayawan Bone, dan aktivis yang juga mantan pemakai narkoba Anto Syambani Adam yang juga penggerak Forbes Anti Narkoba Bone.
Dalam pemaparannya, Andi Singkeru Rukka dalam sejarah Rumpa’na Bone, salah satu yang membuat pasukan Bone kalah karena opium (narkoba).
“Tidak ada alasan untuk tidak memerangi narkoba karena merusak semua tatanan kehidupan masyarakat,” tegasnya.
Dikatakannya, sumber-sumber perbuatan kriminal yang terjadi itu sebagian besar karena shabu (narkoba).
“Masa lalu kita tidak ada yang berani curi celengan masjid, tapi sekarang semua nekat. Banyak saudara-saudara seperjuangan saya hancur bahkan meninggal karena narkoba ini. Narkoba ini tidak punya belas kasihan,” jelasnya.
Yang jadi titik masalah peredaran narkoba ini kata Andi Singke, adalah adanya keuntungan pribadi yang tidak memikirkan kemaslahatan sosial.
“Parahnya ada oknum polisi yang terlibat. Mereka memilik manajemen maka harus dilawan, jangan takut. Tidak ada alasan untuk tidak melawan. Pemerintah kami nilai apatis, makanya kami bentuk Forbes ini,” tegasnya.
Sementara itu, Anto Syambani Adam menceritakan bahwa dirinya merupakan pemakai narkoba jenis shabu pada masa lalu.
“Tepat pada tahun 2014 saya terkondisi dengan barang haram itu (Narkoba. Red) dan paket main judi. Gaji saya sebagai pendamping desa habis. Suatu waktu saya terima gaji saya berikan ke istri dan saya minta kembali hingga saya bertengkar gara-gara shabu,” ungkap Anto.
Pada tahun 2019, Anto mengaku dipecat dan diusir dari rumah mertuanya.
“Gara-gara shabu ini merubah karakter, saya sering berbohong, menghalalkan segala cara untuk bisa mendapatkan barang haram tersebut,” ujarnya.
Paling parah, kata Anto, suatu saat dua anaknya pernah butuh uang namun dirinya tidak memberikannya, padahal dalam kantong celananya ada uang.
“Kalau saya ingat itu, sungguh bejat saya ini gara-gara shabu,” kata dia.
Ditambahkannya, cara dia meninggalkannya dengan kembali kepada Allah dan tidak bergaul dengan teman lama (teman nyabu).
“Alhamdulillah saat ini sya sudah tidak di dunia itu lagi dan berada di garis depan melawan narkoba,” tegasnya.
Di akhir kegiatan, Andi Muawiyah Ramly menyimpulkan permasalahan narkoba ini dengan pribahasa bahwa tidak bisa membersihkan lantai yang kotor dengan sapu yang kotor.
“Kalau sapunya kotor, tambah kotor lantainya, rusaklah semua,” tutup Andi Muawiyah Ramly.






