Wamenaker: Dunia Kerja Kini Utamakan Kompetensi, Bukan Sekadar Ijazah

Ketgam: Wamenaker Afriansyah Noor menghadiri wisuda UM Indonesia di Bekasi, Sabtu (13/6/2026), sekaligus menekankan pentingnya kompetensi dan sertifikasi kerja bagi lulusan.
Ketgam: Wamenaker Afriansyah Noor menghadiri wisuda UM Indonesia di Bekasi, Sabtu (13/6/2026), sekaligus menekankan pentingnya kompetensi dan sertifikasi kerja bagi lulusan.

ENEWS, BEKASI ••》Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker) Afriansyah Noor menegaskan bahwa ijazah perguruan tinggi bukan lagi satu-satunya syarat untuk bersaing di dunia kerja. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (AI), industri kini lebih membutuhkan tenaga kerja yang memiliki kompetensi nyata dan siap kerja.

Hal itu disampaikan Afriansyah saat memberikan kuliah umum pada Wisuda Diploma, Sarjana, dan Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Indonesia (UM Indonesia) Tahun Akademik 2025–2026 di Bekasi, Sabtu (13/6/2026).



Menurutnya, pemerintah akan kembali menjalankan program MagangHub (Pemagangan Nasional) bagi lulusan diploma, sarjana, dan fresh graduate.

Program yang didukung anggaran Rp4,14 triliun tersebut bertujuan memperkuat kompetensi lulusan sekaligus mempercepat transisi ke dunia kerja.

“Dunia industri tidak lagi hanya melihat ijazah, tetapi mencari lulusan yang memiliki kompetensi dan kemampuan nyata,” kata Afriansyah.

Ia menjelaskan, MagangHub dirancang untuk mengatasi kesenjangan keterampilan (skill gap) dan ketidaksesuaian antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan dunia usaha dan industri.

Peserta program akan mendapatkan berbagai fasilitas, seperti uang saku, perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan, pendampingan mentor profesional, hingga kesempatan mengikuti sertifikasi kompetensi yang diakui secara nasional.

Afriansyah menekankan bahwa sertifikasi kompetensi menjadi faktor penting dalam meningkatkan daya saing tenaga kerja Indonesia.

“Industri sekarang tidak lagi bertanya apa ijazahmu, tetapi apa kompetensimu. Sertifikat kompetensi menjadi bukti kemampuan yang dibutuhkan dunia kerja,” tegasnya.

Meski tingkat pengangguran terbuka Indonesia per Februari 2026 tercatat menurun menjadi 4,68 persen, Afriansyah menilai tantangan ketenagakerjaan masih besar akibat disrupsi teknologi dan otomatisasi.

Karena itu, penguatan pelatihan dan pendidikan vokasi yang selaras dengan kebutuhan industri harus terus dilakukan.

Ia juga mendorong UM Indonesia memperkuat kerja sama dengan Balai Latihan Kerja (BLK) dan sektor industri, terutama karena kampus tersebut berada di kawasan industri strategis Bekasi.

“Kampus, pemerintah, dan industri harus bergerak bersama menyiapkan sumber daya manusia yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja saat ini dan masa depan,” ujarnya.

Kepada sekitar 370 wisudawan, Afriansyah berpesan agar tidak hanya mengandalkan gelar akademik, tetapi terus meningkatkan keterampilan dan kompetensi.

“Investasi terbaik bangsa bukan pada sumber daya alam, melainkan pada kualitas sumber daya manusianya. Jadilah motor penggerak kemajuan ekonomi nasional,” pungkasnya. (REDAKSI)





Tinggalkan Balasan