ENEWSINDONESIA.COM, MAJENE – Usulan menaikkan dana insentif para dokter spesialis di RSUD Majene, Sulawesi Barat tahun 2023 diprotes sejumlah pihak.
Deni, salah satu masyarakat Majene menilai bahwa usulan tersebut dianggap berlebihan dengan mencontoh kabupaten lain. Dimana jumlah dana insentifnya lebih tinggi dari kabupaten Majene. Menurut Deni, Kabupaten Majene sedang mengalami defisit.
“Majene saat ini dikatakan defisit, lalu untuk apa lagi para dokter tersebut minta dana insentifnya dinaikkan. Kita semua tahu bahwa ada dokter yang di sekolahkan Pemkab saat ingin melanjutkan jenjang spesialis. Jadi sudah pasti akan ada komitmen antara Pemkab dan dokter yang disekolahkan untuk tetap mengabdi di Majene selama berdinas,” ucapnya, Kamis (27/10/2022).
Lebih lanjut dirinya mengatakan bahwa kekhawatiran pihak RSUD dokter spesialis akan pindah ke daerah lain akibat lebih tingginya insentif yang di bayarkan dari pada kabupaten Majene.
Deni berharap agar para dokter spesialis tersebut memakai dana pribadi saja. Kemudian dirinya beranggapan bahwa Majene ternyata tidak dalam defisit yang parah jika pihak DPRD atau Pemkab Majene menyetujui usulan tersebut.
“Itu akan menimbulkan opini di masyarakat bahwa seorang dokter yang seharusnya mengedepankan jiwa kemanusiaan justru lebih mengejar rupiah jika harus pindah dari Majene karena persoalan insentif yang tidak sebesar daerah lain,” tuturnya.
“Dokter adalah profesi yang sangat mulia, bukan untuk berbisnis. Dalam penyelamatan jiwa manusia kenapa justru meminta lagi agar insentifnya dinaikkan lagi. Apakah yang sekarang itu kurang dan tidak cukup membiayai dirinya dan keluarga?” tandasnya.
Sementara, ketua Komisi 3 DPRD Majene Abdul Wahab mengatakan bahwa jika dianggap perlu dinaikkan pada usulan 2023 karena dikhawatirkan dokter akan pindah ke daerah lain dengan perbandingan dana insentif yang lebih tinggi.
“Itu perlu jadi perhatian, apalagi dokter yang tidak dibiayai Pemkab yang tidak punya komitmen saat disekolahkan. Tapi itu baru usulan belum dibahas,” ujarnya.
Usulan tersebut memang perlu jadi perhatian kita, lanjut Abdul Wahab, insya Allah untuk tahun 2023 mengingat jika dibandingkan dengan daerah lain yang dana insentif dokter spesialis jauh lebih tinggi dari Kabupaten Majene, kekhawatiran itu wajar.
“Apalagi jika dokter yang sekolah spesialisnya tidak dibiayai Pemkab, pasti tidak ada komitmen. Jadi mungkin saja ada permintaan pindah ke daerah lain, tapi itu baru usulan belum dibahas. Kami dari pihak DPRD yang membidangi belum tentu menyetujui,” pubgkas Wahab.






